Rabu, 26 Oktober 2016

Muhammad dalam Alkitab (Kidung Sulaiman : 5 : 10-16)


Dibawah ini adalah ayat-ayat yang saya dapatkan dari Kidung Sulaiman. Ayat ini bercerita mengenai seseorang yang menjadi kesayangan Nabi Sulaiman. Semuanya berkisar pada deskripsi dan perawakan orang tersebut. Kitab ini termasuk wahyu dan dimasukkan dalam daftar kitab-kitab Perjanjian Lama, karenanya, kita tak perlu ragu untuk meyakininya.  

           
            Orang yang kucintai itu putih dan kemerah-merahan, yang mencolok (terkemuka) diantara 10.000 orang. {mencolok, sedangkan dalam naskah bahasa Ibrani disebut dengan seorang yang memimpin pasukan }

Kepalanya bagaikan emas murni, rambutnya mengombak, dan hitam sehitam gagak. {mengombak atau bisa juga disebut keriting}

Matanya bagaikan mata merpati yang hinggap di dekat aliran sungai, bermandi dalam susu, dan duduk sesuainya. (sesuainya, dalam naskah Ibrani dikatakan dengan duduk sepenuhnya, yaitu, ditempatkan sesuainya, atau seperti batu mulia yang ditempatkan dalam wadah cincin.)

Pipinya bagaikan kebun rempah, seharum bunga-bunga: mulutnya seperti bunga bakung, yang meneteskan mur yang wangi.    

Tangannya bagaikan gelang-gelang emas yang berhiaskan permata: tubuhnya seterang gading bertabur batu nilam.

Kakinya bagaikan tiang-tiang marmer yang putih,bertumpu pada alas emas murni: perawakannya bagaikan Libanon, sempurna seperti pohon cedar (pohon aras)   

Teramat manis tutur katanya, segala sesuatu padanya menarik. Begitulah kekasih dan sahabatku, hai putri-putri Yerusalem!

           
            Jika kita mengagumi seseorang maka kita akan terpesona dengan orang tersebut. Baik itu pribadinya, kata-katanya, atau perawakannya. Dalam nubuat ini, kita melihat sosok manusia yang diciptakan dengan keindahan dan kecemerlangan. Keindahan yang akan membuat siapa saja jatuh cinta. Nabi Sulaiman kagum dengan keindahan orang yang dicintainya ini sehingga kata-katanya penuh akan makna.     
            Sama seperti Nabi Sulaiman, orang-orang yang hidup dan melihat Nabi Muhammad juga turut menggambarkan perawakannya. Meski kita tak pernah melihat seperti apa dirinya, maka cukuplah kita melihatnya dengan apa yang dikatakan oleh sahabat-sahabatnya. Satu hal yang pembaca perlu ketahui, para Sahabat Rasulullah adalah orang-orang yang terkenal jujur dalam perkataannya. Mereka bukanlah orang-orang yang suka melebih-lebihkan atau berkata dusta. Jika mereka melihat A, maka mereka katakan A. Jika mereka mendengar B, maka mereka katakan B. Mereka juga dikenal polos ketika bertanya. Hal ini terlihat dari setiap pertanyaan yang mereka ajukan kepada Nabi Muhammad. Semuanya terlihat apa adanya.

Muhammad dalam Alkitab (Yesaya 33: 17-23)

        
        “Engkau akan memandang raja dalam semaraknya, mereka akan melihat negeri yang terbentang jauh. Dalam hatimu engkau akan memikirkan kengerian yang sudah-sudah: "Sudah lenyapkah juru hitung, sudah lenyapkah juru timbang, dan sudah lenyapkah orang yang menghitung menara-menara?"Tidak lagi akan kaulihat bangsa yang biadab itu, bangsa yang logatnya samar, sehingga tidak dapat dipahami, yang bahasanya gagap, sehingga tiada yang mengerti. Pandanglah Sion, kota pertemuan raya kita! Matamu akan melihat Yerusalem, tempat kediaman yang aman, kemah yang tidak berpindah-pindah, yang patoknya tidak dicabut untuk seterusnya, dan semua talinya tidak akan putus. Di situ kita akan melihat betapa mulia TUHAN kita: seperti tempat yang penuh sungai dan aliran yang lebar; perahu dayung tidak melaluinya, dan kapal besar tidak menyeberanginya. Sebab TUHAN ialah Hakim kita, TUHAN ialah yang memberi hukum bagi kita; TUHAN ialah Raja kita, Dia akan menyelamatkan kita. Tali-talimu sudah kendor, tidak dapat mengikat teguh tiang layar di tempatnya, tidak dapat membentangkan layar. Pada waktu itu orang akan membagi-bagi rampasan banyak-banyak, dan orang-orang lumpuh akan menjarah jarahan.”  (Yesaya 33: 17-23)


            Nubuat yang akan kita baca kali ini adalah nubuat tentang kedatanganseorang Raja yang memasuki Yerusalem. Raja tersebut akan datang dalamkemuliaan dan semaraknya. Yakni dia datang bersama panglima-panglimanya. Dia akan dilihat oleh penduduk Yerusalem yang waktu itu sedang dalam keadaan takut. Pasalnya mereka telah melihat dan merasakan kengerian gempuran dan serangan dari pasukan Sang Raja. Bangsa tersebut merupakan bangsa yang dikenal jahiliyah dan mempunyai peradaban tak setinggi mereka.

            “Dalam hatimu engkau akan memikirkan kengerian yang sudah-sudah: "Sudah lenyapkah juru hitung, sudah lenyapkah juru timbang, dan sudah lenyapkah orang yang menghitung menara-menara?"

            Maksud ayat di atas adalah penduduk Yerusalem saat itu merasakan kengerian dan ketakutan yang mereka sudah dengar dari daerah lainnya yang telah ditaklukkan oleh Raja dan pasukan-pasukannya. Seakan-akan mereka sudah yakin bahwa kelak Raja itu akan masuk ke kota mereka. Sehingga mereka berkata dimanakah orang-orang yang menghitung pasukan, dimanakah utusan-utusan Sang Raja yang biasanya mendatangi mereka untuk membuat perjanjian. Dan apakah pasukan tersebut sudah menghitung menara-menara dan benteng-benteng di Yerusalem. Apakah mereka sudah berhasil masuk ke kota dan mengalahkan tentara-tentara kita.
            Tatkala mereka melihat Sang Raja masuk ke dalam Yerusalem, dia terlihat begitu menawan. Seakan-akan dia adalah orang yang paling berjasa dan paling mulia karena dialah pemimpin pasukan-pasukan itu. Dia datang dalam semaraknya. Yakni datang bersama panglima-panglimanya dan tentaranya.
            Kemudian Nabi Yesaya mengatakan ciri dari bangsa dan Raja tersebut,

Muhammad dalam Alkitab (Yesaya : 32:1-8)


"Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan, dan seseorang akan seperti tempat perlindungan dari angin dan tempat perlindungan dari badai, seperti aliran-aliran air di tempat kering, seperti naungan batu yang besar, di tanah yang tandus. Mata orang-orang yang melihat tidak lagi akan tertutup, dan telinga orang-orang yang mendengar akan memperhatikan. Hati orang-orang yang terburu nafsu akan tahu menimbang-nimbang, dan lidah orang-orang yang gagap akan dapat berbicara jelas. Orang keji tidak akan disebutkan lagi orang yang berbudi luhur, dan orang yang tak beradab tidak akan dikatakan terhormat. Sebab orang keji mengatakan kekejiannya, dan hatinya merencanakan yang jahat, yaitu melakukan kemunafikan dan mengatakan ketidakbenaran tentang TUHAN, membiarkan kosong perut orang lapar dan orang haus kekurangan minuman. Kalau penipu, akal-akalnya adalah jahat, ia merancang perbuatan-perbuatan keji untuk mencelakakan orang sengsara dengan perkataan dusta, sekalipun orang miskin itu membela haknya.Tetapi orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selalu bertindak demikian.” (Yesaya : 32:1-8)


Di ayat ini kita akan melihat sebuah nubuat tentang seorang Raja yang memerintah menurut kebenaran. Setelah Raja itu mangkat, maka dia akan digantikan oleh pengganti-penggantinya yang sama adilnya. Kenapa saya memasukkan ayat ini ke dalam nubuat tentang Nabi Muhammad. Apa hubungannya dengan beliau. Seperti yang saya sebutkan di awal, nubuat adalah  perkataan yang sifatnya penuh dengan kiasan dan makna simbolis, artinya dia tidak berkata secara to the point tapi mempunyai kata yang luas dengan makna yang lebih mengena dengan kejadian yang dimaksud. Anda mungkin tidak menyadari bahwa sesungguhnya nubuat tentang Nabi Muhammad mempunyai “kata kunci” yang jika kita melihatnya maka kita akan menemukannya. Kata kunci nubuat tentang beliau dalam Kitab Perjanjian Lama adalah buta huruf. Itu seperti yang dikatakan oleh Allah dalam surat Al-A’raf yang saya tulis di bab sebelumnya. Kata kunci inilah yang menjadi pembuka untuk melihat nubuat-nubuat tersebut.