Rabu, 26 Oktober 2016

Cahaya di tengah kegelapan

Muhammad adalah seorang Nabi yang diutus kepada umat manusia dengan membawa risalah dan rahmat. Kedatanganya di dunia seperti cahaya yang menuntun umat manusia ke arah terang benderang. Dia memberi harapan kepada mereka yang mati dalam putus asa. Dia membawa peringatan kepada mereka yang berlaku aniyaya dan memberi kabar gembira kepada mereka yang berlaku arif. Kedatangannya bukan untuk membuat sebuah kediktatoran atas nama agama yang mengukung manusia dari hidupnya. Akan tetapi, dia datang untuk membawa mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dia telah berhasil menjadikan Tauhid sebagai ajaran yang paling banyak dipeluk oleh pengikutnya. Meski begitu, Ajaran Islam yang dapat kita lihat sekarang ini tidaklah dihasilkan dari keadaan mudah dan tanpa tantangan. Dakwah yang beliau jalani mempunyai banyak tantangan dan kesulitan. Beliau telah menjalani fase tersulit dalam hidupannya. Beliau diutus ke sebuah masyarakat yang Jahiliyah. Banyak aspek dalam masyarakatnya yang tak sesuai dengan nilai-nilai kebaikan. Dia berdakwah kepada suatu kaum yang belum pernah mengenal ajaran Allah. Kebanyakan mereka waktu itu melaksanakan peribadatan dan perbuatan yang berdasarkan warisan nenek moyang. Di antara mereka ada yang menyembah berhala, kuburan, dan Jin. Berhala-berhala itu mereka warisi dari orang tua mereka sehingga mereka semakin takzim dan mengultuskan berhala tersebut. Mereka percaya bahwa berhala-berhala itu akan memberikan keuntungan dan menjauhkan mereka dari kesialan.
Karenanya bukanlah hal mudah untuk berdakwah kepada kaum yang kuat memegang kepercayaan warisan nenek moyang. Sikapnya yang penuh perhatian dan kejujuran belum dapat membuat banyak orang simpati dengan ajakannya.     
Kebiasaan Jahiliyah yang lainnnya yang terjadi kala itu adalah penguburan bayi perempuan dalam keadaan hidup-hidup. Ada satu suku yang apabila mereka mendapat (melahirkan) anak perempuan maka mereka akan menguburnya dalam keadaan hidup-hidup. Perbuatan seperti itu benar-benar terjadi kala itu.Merekapun terbiasa menghabiskan waktu dengan meminum arak, syair, dan judi. Itu semua adalah sedikit gambaran dari masyarakat Arab ketika Nabi Muhammad diutus.
Keadaan masyarakatnya memang benar-benar dalam kesesatan. Sebelum kedatangannya sebagai Nabi, mereka adalah kaum yang tidak mengenal kebenaran yang sesuai ajaran Tuhan. Mereka tidak mengenal arti dan hakikat kehidupan sebenarnya.
Meskipun begitu, mereka juga memiliki kebaikan akhlak yang mungkin tak dimiliki oleh bangsa lain. Mereka adalah bangsa yang dikenal ramah dalam menjamu tamu. Mereka juga dikenal sebagai bangsa yang sangat menjunjung tinggi amanah dan perjanjian, kehormatan wanita, dan menjaga aib.
Beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang sudah baik tersebut. Dia tidak diutus untuk merubah akhlak kaumnya secara 180 derajat, akan tetapi dia datang untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang sudah baik dan menghapus akhlak-akhlak yang buruk seperti yang disebutkan di awal.  
            Salah satu tantangan terbesar yang beliau hadapi dalam dakwahnya adalah para Penyembah berhala yang mana mereka sangat kuat dalam memegang peribadatan warisan nenek moyang mereka.
Berhala adalah simbol keamanan dan kesejahteraan bagi masyarakat Quraisy. Siapa saja yang menghina atau bahkan melarang mereka dari penyembahan berhala, maka dia akan dimusuhi. Ajaran Tauhid yang diajarkannya adalah ajaran asing bagi kebanyakan orang saat itu. Seperti yang dikatakannya dalam sebuah Hadits, “Islam itu awalnya asing, dan akan kembali asing”. Di saat semua orang bersukaria dengan berhala-berhala yang mereka miliki, Muhammad mengajak mereka untuk meninggalkannya dan menyembah Allah. Maka timbulah gejolak dalam masyarakat. Keadaan menjadi tak seperti sedia kala. Hal ini berdampak pada keberadaan dirinya, keluarganya, dan pengikut-pengikutnya. 
            Nabi Muhammad dan pengikut setianyapun mulai mendapat gangguan dari orang-orang Kafir Quraisy. Mulai dari penghinaan hingga pemboikotan. Beberapa dari pengikut setianya dibunuh dan disiksa sedemikian rupa. Dan yang terakhir adalah percobaan pembunuhannya.   
            Akan tetapi, Allah menakdirkan mereka untuk menang. Allah membukakan jalan bagi mereka untuk hijrah ke Madinah dan menyatukan kekuatan orang-orang yang beriman. Di Madinah, Nabi Muhammad menanamkan nilai-nilai fundamental Islam. Dia mengajarkan kepada mereka akan kebaikan dan perbuatan-perbuatan amal yang dicintai Tuhan. Dakwahnya semakin berkembang dan mendapat perhatian orang waktu itu. Mulai banyak orang yang datang kepadanya dan berbaiat atas dasar keimanan.
            Ketika risalah kenabian sudah semakin lengkap dan sempurna, Allahpun menyuruh beliau untuk kembali ke Mekkah. Beliau diminta untuk membersihkan kota itu dari segala “kotoran” yang mengotorinya. Atas izin Allah, Muhammad kembali ke Mekkah dengan 10.000 orang untuk membebaskan kota itu dari berhala dan kesyirikan. 
            Sejak itu, Islam tumbuh di jazirah Arab seperti bunga-bunga di musim semi. Baunya mulai tercium ke seantero pelosok negri. Nabi Muhammad, atas izin Allah, berhasil membuat peradaban baru yang membuka ilmu pengetahuan dan keadilan. Peradaban yang menghancurkan segala penyembahan kepada selain Allah. Tak ada yang mengira, jika dibalik dakwah yang berlangsung 23 tahun itu, ia mampu mengalahkan peradaban-peradaban lainnya yang kuat. Hingga kini ajarannya masih dilestarikan oleh lebih dari satu miliyar orang di dunia.  
            Keberadaannya di tengah umat manusia seperti cahaya di tengah kegelapan. Dia datang untuk mengeluarkan umatnya dari kegelapan dan kemerosotan. Dia datang dengan cahaya yang bernama Al-Qur’an. Dia datang bukan untuk menjadi pemimpin bangsa Arab atau menghancurkan dogma-dogma agama sebelumnya akan tapi untuk menggenapi risalah kenabian yang terputus. Risalah yang telah dinodai oleh penyelewengan tangan-tangan manusia,  
            Thomas Carlyle, seorang Sejarawan Skotlandia, berkata tentang Nabi Muhammad,
            “Dia adalah pembawa obor cahaya dan ilmu. Datang kepada bangsa Arab untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan ke arah terang-benderang. Dulu jazirah Arab hanya seperti yang terlihat. Para penggembala yang miskin, berkelana tanpa tujuan di padang-padang gurun sejak terciptanya dunia. Lihatlah, yang tadinya tak dilihat menjadi sesuatu yang diperkirakan, yang tadinya kecil tumbuh menjadi penguasa dunia. Dalam kurun satu abad setelahnya, Arab telah hadir di Granada dan di tempat lain berada di Delhi. Berjalan dengan keberanian, kemuliaan, dan cahaya kegeniusan, bangsa Arab akan bersinar di atas permukaan bumi.” 
George Bernard Shaw, seorang Dramawan sekaligus pendiri Fabian Society (pro Sosialisme), juga berkata tentangnya, 
“Jika seandainya orang seperti Muhammad dijadikan pemimpin yang diktator (berkuasa penuh) di dunia modern, niscaya dia akan sukses memecahkan masalah-masalah yang membutuhkan kedamaian dan kebahagiaan.” 
          Dialah Sang Penghibur yang dijanjikan Isa untuk mengatakan seluruh kebenaran. Dialah Sang Kekasih yang dirindukan oleh Sulaiman meski para penjaga-penjaga kota Israel membencinya. Dan dialah Sang Nabi yang dijanjikan oleh Musa untuk datang bersama 10.000 pengikutnya dari gunung Paran,
            “Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi (buta huruf) yang (sifatnya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raaf : 157)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar