Rabu, 26 Oktober 2016

Muhammad dalam Alkitab (Ulangan 18 : 18-20)

Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.
Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama tuhan-tuhan lain, nabi itu harus mati. (Ulangan 18 : 18-20)

Dalam ayat ini Allah berfirman bahwa kelak, Dia akan mengutus seorang Rasul yang berasal dari sanak saudara Bani Israel. Allah tidak menyebut suku atau keturunan Israel yang dua belas orang. Karena jika seandainya Allah bermaksud untuk mengutus seorang Rasul dari keturunan Israel, mungkin sebutannya akan langsung kepada Israel. Akan tetapi, dalam ayat ini yang disebut adalah Saudara Mereka. Siapakah yang disebut saudara Bani Israel. Apakah Yusuf, Benjamin, atau siapa.
Yang dimaksud saudara disini adalah saudara yang sama-sama berasal dari keturunan Nabi Ibrahim. Bani Israel adalah keturunan langsung dari Nabi Ibrahim. Yakni Ya’kub (Israel) bin Ishak bin Ibrahim. Hal ini diperkuat dengan pengertian yang dapat dilihat dalam Kamus Bible Bahasa Ibrani tentang kata Brethren (Saudara) dalam ayat diatas. Di antara makna dari kata Saudara adalah yaitu penyematan sebuah kaum yang dinilai mempunyai hubungan sanak dengan bangsa Israel. Kaum yang mempunyai hubungan saudara dengan bangsa Israel adalah bangsa Arab. Bangsa Arab adalah keturunan langsung dari Nabi Ismail yang juga anak dari Ibrahim.  
Seperti yang kita tahu, Ibrahim mempunyai anak selain Ishak yang bernama Ishmail. Ishmail adalah anak yang dilahirkan dari istrinya Hajar. Dia adalah pemberian Raja Mesir kepada Ibrahim. Dalam Kitab Kejadian dikisahkan tatkala Ishmail dan Hajar ditinggalkan oleh Ibrahim di sebuah tempat yang bernama Paran (Mekkah),

Allah mendengar suara Ismael, dan dari langit malaikat Allah berbicara kepada Hagar, katanya, "Apa yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut. Allah telah mendengar suara anakmu. Pergilah kepada anakmu, angkat dan tenangkanlah dia. Aku akan menjadikan keturunannya suatu bangsa yang besar." Lalu Allah membuat Hagar melihat dengan jelas, sehingga tampak olehnya sebuah sumur. Maka pergilah ia lalu mengisi kantong kulit itu dengan air, kemudian diberinya anaknya minum. Allah menyertai Ismael. Anak itu bertambah besar; ia menetap di padang gurun Paran, dan menjadi pemburu yang mahir. (Kejadian : 21:17-19)

Nabi Ibrahimpun pernah berdoa kepada Allah untuk mengutus seorang Nabi yang berasal dari keturunan Ishmail,

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Baqoroh : 127-129)

Nabi Muhammad merupakan keturunan langsung dari Ishmail. Ishmail adalah saudara Ishak. Dan Ishak adalah bapak dari Ya’kub. Dan Ya’kub adalah nenek moyang bangsa Israel. Dengan begitu, Saudara Mereka yang dimaksud dalam nubuat ini adalah bangsa Arab. Dari keturunannya kelak datang seorang Nabi yang mempunyai hubungan darah dari nenek moyangnya.
Kemudian Allah berfirman bahwa Nabi itu akan mempunyai kedudukan sama seperti Musa,     

Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini;

Yakni seperti engkau, Musa. Nabi Musa adalah seorang Nabi yang diutus Allah  kepada Bani Israel. Musa diberikan sebuah Kitab yang bernama Taurat. Kitab tersebut berisi perintah dan larangan Tuhan yang merinci segala urusan dunia dan akhirat. Dalam nubuat ini dikatakan bahwa Nabi yang dijanjikan itu akan mempunyai persamaan-persamaan dengan dirinya.
Sebagian orang berkata bahwa yang dimaksud adalah Nabi Isa. Namun jika ditelaah lebih lanjut, mungkin Nabi Muhammad lebih banyak persamaannya dibanding Isa.
Diantara persamaan Nabi Muhammad dengan Musa adalah :
      Nabi Musa diutus dengan sebuah Kitab Suci baru bernama Taurat yang menjelaskan hal-hal global dan terperinci. Maka Muhammadpun diutus dengan Kitab Suci baru bernama Al-Qur’an yang menjelaskan hal-hal global dan terperinci. Kedua Kitab itu juga mempunyai kesamaan perintah dan larangan yang titik sentralnya adalah monotheisme (Tauhid). 
      Nabi Musa dijadikan pemimpin oleh kaumnya. Pemimpin yang dimaksud artinya berhak untuk memberikan hukuman berat kepada kaumnya dan mempunyai kewenangan meyeluruh atas kaumnya. Muhammad, seperti Musa, juga diberi kewenangan menyeluruh seperti menghukum, memerintah, menyuruh berperang, melaksanakan hudud (hukuman) serta mengatur hubungan antar komunitas yang berada di Madinah. Sedangkan Isa, beliau belum sampai diberi kepemimpinan yang menyeluruh terhadap kaumnya. Ketika dia diutus, pemerintahan kaumnya berada di tangan Romawi. 
      Nabi Musa lahir secara normal melalui hubungan yang sah antara laki-laki dan perempuan. Begitupula Nabi Muhammad, dia dilahirkan secara normal. Sedangkan Nabi Isa dilahirkan tanpa ayah dengan kalimat Allah yang ditetapkan kepada Maryam.   
      Nabi Musa menikah dan mendapat keturunan begitu pula Nabi Muhammad. Dia menikah dan mendapat keturunan. Sedangkan Nabi Isa belum sempat menikah seumur hidupnya.
      Nabi Musa meninggal dan dikuburkan di bumi sama halnya dengan Nabi Muhammad diapun dikuburkan di Madinah. Sedangkan Nabi Isa diangkat ke langit dan belum meninggal di muka bumi.

Dengan begitu, Nabi Muhammad lebih banyak persamaannya dengan Nabi Musa. Mereka adalah sama-sama utusan Allah yang diutus kepada kaumnya. Perbedaannya, Musa diutus hanya untuk Bani Israel, sedangkan Nabi Muhammad diutus untuk semua  bangsa. Itulah mengapa disebutkan  Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka artinya Nabi Muhammadpun diutus untuk Bani Israel.
Yang membuat kita yakin dengan hal ini adalah dengan  banyaknya ayat dalam Qur’an yang mengisahkan perjalanan dakwah Musa dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Bani Israel. Dan yang terakhir, Nabi Musa diutus kepada kaumnya yang mana waktu itu belum pernah diutus seorang Nabipun setelah Yusuf kepada mereka, kemudian Allahpun mengutus Musa menjadi Rasul pertama bagi Bani Israel. Begitupula kaum Nabi Muhammad, belum pernah diutus kepada mereka seorang Rasulpun kecuali beliau.

          Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.

Kemudian ayat selanjutnya berbunyi bahwa kelak Allah akan menaruh perkataan-Nya kepada Nabi itu untuk disampaikan kepada umatnya. Allah akan mengutus Malaikat Jibril kepada dirinya sebagaimana Allah telah mengutusnya kepada nabi-nabi sebelumnya.
Hal ini seperti yang dikatakan oleh Allah dalam surat An-najm,

            Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), (An-najm  : 4)

          Apa yang dikatakan oleh Nabi itu kelak akan membenarkan segala yang telah termaktub dalam kitab-kitab sebelumnya. Hal ini sebagai penegasan bahwa apa yang dikatakan oleh Nabi itu bukanlah kedustaan atau pengklaiman diri sendiri. Semua yang dikatakan dirinya adalah wahyu yang diberikan kepadanya. Dia takkan berkata kecuali apa yang diperintahkan oleh-Nya.
            Lihatlah apa yang telah Allah katakan melalui lisan Nabi-Nya, Muhammad, semuanya tak ada yang bertentangan dengan dakwah nabi-nabi sebelumnya. Mulai dari ketauhidan hingga hukum-hukum yang menyangkut larangan dan perintah. Jika Taurat melarang riba, maka Al-qur’anpun melarangnya. Jika Taurat melarang penyembahan kepada selain Allah, maka Al-qur’anpun membenarkannya. Jika Taurat melarang pembunuhan orang tak bersalah, maka Al-qur’anpun juga melarangnya. Jika Taurat melarang sihir, maka Al-qur’anpun melarangnya.   

            Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban

            Ayat diatas menjadi peringatan kepada siapa saja yang tidak beriman kepada nabi tersebut. Mengapa Allah menuntut pertanggungjawaban?, jawabannya sederhana, karena mereka sesungguhnya tahu siapa nabi tersebut. Mereka tahu sifat-sifatnya dan ajaran-ajaran yang dibawanya. Mereka sadar bahwa apa yang dibawa oleh Nabi itu adalah  sama dengan ajaran yang dibawa oleh Isa dan Musa namun mereka tidak beriman kepadanya. Maka kelak Allah akan menuntut di Hari Kiamat. 
            Kemudian Allah berkata siapakah yang pantas diikuti dan disebut Nabi,

            “Tetapi kalau seorang nabi berani menyampaikan suatu pesan atas nama-Ku padahal Aku tidak menyuruh dia berbuat begitu, ia harus mati; begitu juga setiap nabi yang berbicara atas nama tuhan-tuhan lain, nabi itu  harus mati.” (Ulangan : 18: 20)

            Jika disandingkan dengan ayat diatas, maka Nabi Muhammad telah melewati prasyarat yang disebutkan.
Seorang Nabi akan dinilai kebenarannya dengan dua hal. Pertama, apa yang disampaikannya itu adalah firman Allah. Dia tidak akan mengatakan sesuatu yang berasal dari hawa nafsunya sendiri. Yang kedua dia tidak akan menyuruh mereka untuk menyembah Tuhan selain Allah. Dia akan menyuruh kaumnya untuk menyembah Allah dan meninggalkan tuhan-tuhan selainnya.
            Nabi Muhammad tak pernah mengklaim dirinya menjadi Nabi. Akan tetapi beliaulah yang dipilih dan dipanggil oleh Allah untuk mendakwahi kaumnya. Dia tidak dilahirkan dari keluarga Pendeta yang mungkin membuatnya terpesona dengan kisah nabi-nabi sehingga membuatnya berkeinginan untuk menjadi Nabi. Dia juga bukan seseorang yang pandai baca tulis yang dengannya dia mampu mempelajari kitab-kitab Samawi.
Dia adalah seorang buta huruf. Hal ini menjadi bukti bahwa semua yang dikatakannya adalah dari Allah. Karena, bagaimana mungkin seorang yang tidak bisa membaca dapat mengetahui kisah-kisah para Nabi. Bagaimana dia bisa mengatakan kisah Musa tatkala dia berdakwah kepada Firaun. Bagaimana dia bisa menceritakan kisah Isa tatkala dia mengeluarkan banyak mukjizat. Bagaimana dia bisa mengisahkan kisah perjuangan pengikut-pengikut Isa yang bernama Ashabul Kahfi tatkala mereka bersembunyi untuk mempertahankan iman mereka dari Penguasa Thogut. Apakah mungkin seorang yang buta huruf mampu mengatakan kisah-kisah yang menakjubkan dan benar ini.
Hingga sekarang, tak ada orang yang mampu membuat satu hurufpun yang semisal dengan Qur’an. Bahasa Qur’an adalah bahasa ilahi yang manusia biasa takkan mampu membuatnya. Bahasa Qur’an telah berpengaruh pada semua sastra arab baik itu modern dan tradisional. Apakah mungkin seorang yang buta huruf mampu menulis karya seindah qur’an?.   
Sebelum dipanggil menjadi Rasul, Muhammad adalah seorang lelaki biasa pada umumnya. Namun, beliau mempunyai keistimewaan dalam akhlak dan hatinya. Dia tak seperti orang sezamannya yang memuja berhala dan syair-syair. Dia juga suka menyendiri di tempat sunyi sehingga membentuk kepribadiannya yang suka dengan kebenaran. 
            Kemudian tanda selanjutnya seperti yang dikatakan dalam ayat dibawah, 

            Begitu juga setiap nabi yang berbicara atas nama tuhan-tuhan lain, nabi itu harus mati

            Bukti bahwa seorang Nabi benar-benar diutus oleh Allah adalah ajaran Tauhid. Seorang Nabi tak mungkin menyuruh umatnya untuk menyembah tuhan-tuhan selain Allah. Dia akan menyeru mereka untuk menyembah Allah yang Maha Esa. Karena memang seperti itulah dakwah para Nabi. Titik sentral dari ajaran mereka adalah penyembahan kepada Allah dan meninggalkan Tuhan selain-Nya.

            “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Ali Imron : 79)        


          Beliau telah melewati dua prasyarat dari kenabian. Dengan ini, tak ada keraguan bagi kita bahwa Nabi yang dimaksud oleh nubuat ini adalah Nabi Muhammad. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar