Rabu, 26 Oktober 2016

Muhammad dalam Alkitab (Ulangan : 33 : 1-2)

Nabi Musa berkata kepada Bani Israel sebelum kematian menjemputnya,

            Sebelum meninggal, Musa, utusan Allah, memberkati bangsa Israel dengan kata-kata ini: "TUHAN datang dari Gunung Sinai; Ia terbit di atas Seir laksana matahari dan dari Gunung Paran Ia menyinari umat-Nya. Ia disertai sepuluh ribu orang suci; api menyala di sebelah kanan-Nya. Sungguh, TUHAN mengasihi bangsa-Nya {bangsa-Nya diambil dari terjemahan kuno. Menurut naskah Ibrani: bangsa-bangsa. } (Ulangan : 33 : 1-2) 

            Perkataan Nabi Musa di atas adalah perkataan yang penting bagi kaumnya. Karena yang dia katakan itu terjadi di saat-saat dia akan berpulang ke rahmatullah. Di saat-saat seperti ini, seseorang akan mengatakan perkataan yang seharusnya menjadi pesan penting bagi orang yang mendengarnya.
            Perkataan di atas adalah perkataan yang mempunyai makna kiasan. Perkataan itu adalah nubuat yang kita maksud dalam buku ini. Yakni sebuah kata-kata yang mengandung makna lain dari kata yang tersirat.

            Ayat ini adalah nubuat bahwa kelak akan muncul dua Rasul setelah kematian Musa. Dua Rasul itu diidentikkan dengan gunung atau bukit dimana mereka diutus.   
 
"TUHAN datang dari Gunung Sinai;

 Sebelum dua rasul itu datang, maka Musa telah dulu datang dengan membawa wahyu yang didapatkannya dari gunung Sinai. Di sanalah ia mendapat wahyu yang langsung diterimanya dari Allah.

Ia terbit di atas Seir laksana matahari

Kemudian nubuat setelahnya mengatakan bahwa kelak akan muncul seorang Rasul di atas Seir. Gunung Seir adalah gunung yang terletak di Hebron Palestina. Ada juga yang berpendapat bahwa Gunung tersebut terletak di Edom hingga perbatasan Yudea (Palestina).
Musa bernubuat bahwa kelak akan datang seorang Rasul dari gunung (pemukiman) Seir. Rasul tersebut akan mempunyai kedudukan dan derajat yang utama dan besar seperti halnya Musa. Dia laksana matahari yang akan menerangi Bani Israel. Dia akan memberikan mereka cahaya yang akan menujukkan mereka jalan yang diridhoi Tuhannya.
Rasul yang dimaksud oleh Musa adalah Nabi Isa. Beliau adalah seorang Rasul yang diutus kepada Bani Israel yang waktu itu mendiami wilayah Palestina, tempat di mana Gunung Seir berada. Kedatangannya laksana matahari. Dia diutus untuk mengeluarkan Bani Israel dari kegelapan yang menutup mereka dari kebenaran dan esensi ajaran Taurat.
 Kemudian nubuat itu beralih ke seorang Nabi yang akan datang di tempat bernama gunung Paran,

            Dan dari Gunung Paran Ia menyinari umat-Nya. Ia disertai sepuluh ribu orang suci; api menyala di sebelah kanan-Nya. Sungguh, TUHAN mengasihi bangsa-Nya {bangsa-Nya diambil dari terjemahan kuno. Menurut naskah Ibrani: bangsa-bangsa. }

           
            Para Ahli sepakat bahwa yang dimaksud dengan Paran adalah Mekkah. Dalam Taurat disebutkan bahwa Ibrahim meninggalkan anaknya Ishmail dan istrinya Hajar di tempat bernama padang Paran. Yaitu sebuah padang pasir berbukit yang tidak ada satu orangpun yang tinggal di dalamnya. Ayat diatas bernubuat bahwa kelak akan datang seorang Rasul dari Paran yang akan menjadi utusan Allah. 
Nubuat ini menjadi kenyataan dengan diutusnya Nabi Muhammad. Beliau adalah seorang lelaki yang lahir di Mekkah dan tumbuh di kota itu. Mekkah adalah tempat pertama beliau berdakwah dan menyeru kaumnya. Di sanalah Islam pertama kali disebarkan. Sebelumnya, belum ada satu rasulpun yang diutus oleh Allah ke Paran. Mereka yang menghuni Paran adalah keturunan Ishmail yang hidup dan menyembah Allah. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, mereka menggantikan ajarannya yang murni dengan berhala. Ka’bah yang sejatinya adalah rumah Allah dikotori dengan benda-benda yang tak pantas.      

            Ia disertai sepuluh ribu orang yang suci; api menyala di sebelah kanan-Nya,

            Nubuat selanjutnya mengatakan bahwa kelak akan datang bersamanya sepuluh ribu orang yang suci dan shaleh. Mereka akan menemaninya dalam sebuah perjalanan. Nubuat ini persis dengan peristiwa Fathul Mekkah.
Ketika kedudukan umat Islam semakin kuat di Madinah, Allah memerintahkan Rasulnya bersama para pengikut-pengikutnya untuk mensucikan Mekkah dari kesyirikan. Peristiwa ini disebut dengan Fathul Mekkah. Yaitu perintah untuk membebaskan Mekkah dari kesyirikan dan berhala. Dan tahukah anda berapa orang yang ikut bersamanya?, ya, persis seperti yang dikatakan ayat di atas. Dia pergi ke sana bersama dengan 10.000 orang pengikutnya. Para Sejarawan sepakat bahwa tatkala beliau datang ke Mekkah, beliau datang dengan 10.000 orang. Keterangan ini sudah menjadi fakta yang umum yang ditulis oleh banyak Sejarawan.  

            api menyala di sebelah kanan-Nya

Api adalah simbol keberanian, peperangan, dan ketegasan. Sedangkan tangan kanan adalah simbol kekuasaan dan pemerintahan. Ayat ini mengabarkan bahwa kekuasaan dan kepemimpinan Rasul tersebut sangat tegas dan berani. Kekuasaannya akan ditakuti oleh banyak penguasa. Kekuasaannya akan tersebar dan kokoh karena para Mujahidin yang telah mengorbankan jiwa dan harta mereka untuk Allah.
Nubuat ini terbukti dengan ekspansi besar-besaran yang terjadi setelah kematian Rasulullah dibawah penerus-penerusnya. Kekuasaan Islam menjadi kekuasaan yang paling ditakuti saat itu. Merekalah yang menghancurkan kesombongan Romawi, memadamkan api di Kuil Majusi, dan merobohkan berhala Hubal di semenanjung Arabia.

            Sungguh, TUHAN mengasihi bangsa-Nya {bangsa-Nya diambil dari terjemahan kuno. Menurut naskah Ibrani: bangsa-bangsa. },

Diutusnya Nabi Muhammad kepada umat manusia adalah bentuk kasih sayang Allah.Kedatangannya membawa perubahan menyeluruh ke semua aspek kehidupan dunia. Dia membawa ajaran yang mengangkat harkat dan martabat manusia. Dia membebaskan mereka dari belenggu ketidakadilan dan memberikan mereka kehidupan yang luas dan lapang.
Dia tak diutus hanya untuk satu suku bangsa saja, akan tapi untuk semua bangsa di dunia. Jika anda baca catatan kecil di atas, maka anda akan membaca bahwa dalam naskah yang berbahasa Ibrani adalah bangsa-bangsa. Jika katanya hanya merujuk pada bangsa, maka Nabi itu akan diutus hanya untuk suatu kaum. Tapi ternyata naskah Ibraninya berbunyi bangsa-bangsa. Hal ini mengindikasikan bahwa Nabi itu tidak hanya diutus untuk kaumnya tapi untuk semua umat manusia. 


            Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al-Anbiyaa : 107)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar