Rabu, 26 Oktober 2016

Muhammad dalam Alkitab (Yesaya 28: 10-13)


Dan orang berkata: "Kepada siapakah dia ini mau mengajarkan pengetahuannya dan kepada siapakah ia mau menjelaskan nubuat-nubuatnya? Seolah-olah kepada anak yang baru disapih, dan yang baru cerai susu! Sebab harus ini harus itu, mesti begini mesti begitu, tambah ini, tambah itu!" Karena dengan mulut yang terbata-batalah dan bahasa asing dia akan berbicara kepada bangsa ini. Dia yang telah berfirman kepada mereka: "Inilah tempat perhentian, berilah perhentian kepada orang yang lelah; inilah tempat peristirahatan!" Tetapi mereka tidak mau mendengarkan.Maka mereka akan mendengarkan firman Tuhan yang begini: “Harus ini harus itu, mesti begini mesti begitu, tambah ini tambah itu!” supaya dalam berjalan mereka jatuh telentang, sehingga luka, tertangkap dan tertawan.

            Ayat ini turun berkenaan tentang sikap sebagian orang Israel yang kurang menerima ajaran Nabinya. Mereka merasa untuk apa diajarkan dan kenapa perlu diajarkan kepada mereka. Seakan-akan mereka merasa sudah berilmu dan tahu tentang apa yang diajarkan oleh para Nabi. Padahal tak seperti itu kenyataannya. 
Karena sikap mereka yang sombong terhadap ajaran Nabi mereka, maka Allah akan mengutus seorang Nabi yang bukan berasal dari golongan mereka. Dia akan datang untuk memperingatkan mereka seperti halnya nabi-nabi yang diutus kepada mereka. Perbedaannya, Nabi ini akan berbicara kepada mereka bukan dengan bahasa mereka akan tetapi dengan bahasa asing.

            Karena dengan mulut yang terbata-batalah dan bahasa asing dia akan berbicara kepada bangsa ini

            Allah akan mengutus seorang Rasul yang akan berbicara dengan bahasa asing. Dia tidak akan berbicara dengan bahasa Ibrani tetapi dengan bahasa yang jarang mereka dengar. Ciri yang kedua adalah cara berbicaranya yang terbata-bata.
Nubuat ini dapat diartikan secara simbolis. Seorang yang berbicara terbata-bata adalah kiasan dari seorang yang buta huruf. Dia tak bisa mengucapkannya secara baik karena selama hidupnya dia tak pernah membaca. Karenanya, apabila dia diminta untuk membaca, dia akan membacanya dengan bibir yang terbata-bata. Artinya kita dapat menafsirkan bahwa nabi tersebut adalah seorang yang buta huruf.
Rasulullah adalah seorang yang buta huruf. Hal ini menjadi tanda akan keaslian dan keautentikan Al-Qur’an. Semua huruf dan kata yang berada di dalamnya adalah kemurnian. Semuanya terjaga dari segala pemikiran ataupun ajaran yang bukan dari asalnya. Dan hal ini juga menjadi bukti bahwa Al-Qur’an adalah perkataan Allah.
Dalam Qur'an, nabi Muhammad dipanggil dengan sebutan umi yang berarti buta huruf,

            “Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi (buta huruf) yang (sifatnya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka...” (Al-A’raaf : 157)  

Kemudian dikatakan bahwa kelak Nabi itu akan berbicara dengan bahasa asing,

            Karena dengan mulut yang terbata-batalah dan bahasa asing dia akan berbicara kepada bangsa ini

             Dia akan berbicara kepada mereka bukan dengan bahasa Ibrani. Akan tetapi dia akan berbicara kepada mereka dengan bahasa asing.
Nubuat ini juga sesuai dengan sifat Nabi Muhammad. Beliau adalah orang Arab yang berbicara bahasa Arab. Bahasa Kitab yang diberikan kepadanyapun bahasa Arab. Namun dia juga diutus untuk semua bangsa tak terkecuali Bani Israel. Bahasa Arab adalah bahasa yang asing bagi Bani Israel waktu itu.

Dia yang telah berfirman kepada mereka: "Inilah tempat perhentian, berilah perhentian kepada orang yang lelah; inilah tempat peristirahatan!" Tetapi mereka tidak mau mendengarkan,

Kemudian dikatakan bahwa kelak Syariat yang diajarkan oleh Nabi yang diramalkan itu akan menjadi tempat peristirahatan bagi mereka. Syariatnya akan membuang beban dan hal-hal yang memberatkan mereka. Mereka akan dijamin dengan segala kemudahan dan kebaikan yang terdapat dalam ajarannya. Mereka akan mendapatkan keringanan dari syariat-syariat sebelumnya yang membebani mereka.  
Allah berfirman dalam Surat Al-A’raaf,

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi (buta huruf) yang (sifatnya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.(Al-A’raaf : 157)

            Namun ketika Nabi itu membawa keringanan-keringanan kepada mereka, mereka justru tak mau mendengarkannya. Mereka sombong sebagaimana mereka sombong dengan nabi-nabi yang diutus kepada mereka sebelumnya. Mereka mengacuhkannya sebagaimana dikatakan dalam ayat di bawah,

Tetapi mereka tidak mau mendengarkan,

Setelah Nabi itu datang kepada mereka dengan ajaran yang sama  (tauhid) dan memberikan beberapa keringanan kepada mereka, maka mereka tak akan mendengar seruannya. Mereka takkan beriman dengan kenabiannya. 
Nubuat ini terbukti dengan penolakan orang-orang Yahudi Madinah terhadap dakwah Nabi Muhammad. Mereka menolaknya dan tak menerimanya. Sebagian mereka bahkan berupaya untuk menggagalkan dakwah beliau dengan berbagai upaya. Sampai sekarang bangsa Yahudi tidak mau menerima dakwah Nabi Muhammad. Mereka mengingkari dakwah dan ajaran beliau.
Karena mereka menolakAjaran dan dakwah Nabi Muhammad, maka mereka akan kembali kepada syariat lama yang memberatkan. Mereka akan dibebani oleh syariat lama yang mereka keluhkan. Padahal, syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad lebih ringan dan lebih mudah.

Maka mereka akan mendengarkan firman Tuhan yang begini: “Harus ini harus itu, mesti begini mesti begitu, tambah ini tambah itu!”

Akibat lainnya adalah mereka akan mengalami kesusahan dan penderitaan,

Supaya dalam berjalan mereka jatuh telentang, sehingga luka, tertangkap dan tertawan.

Penolakan bangsa Yahudi terhadap kenabian Muhammad telah berdampak pada keberadaan mereka di negri-negri mereka tinggal. Sejarah telah mencatat kelamnya pengalaman yang dialami oleh mereka. Nubuat ini terbukti dengan kejadian pengusiran Bani Qaynuqa, Bani Nadhir dan Bani Quraydzoh. Mereka diusir dari Madinah karena sikap mereka yang tidak menghormati keberadaan kaum Muslimin. Dan juga karena sikap mereka yang menginginkan kekalahan dalam tubuh kaum Muslimin. Akibatnya sebagian mereka diusir dan sebagian lagi dibunuh karena pengkhianatan mereka kepada Rasulullah dan Kaum Muslimin.
Padahal, jika seandainya mereka menerima dakwah Rasulullah (masuk Islam) dan patuh dengan perjanjian Madinah, niscaya merekapun akan mendapat hak yang sama seperti kaum Muslimin. Mereka akan dijaga dan tidak diusir ataupun dibunuh. Namun mereka menolaknya dan lebih dari itu sebagian mereka juga melakukan upaya-upaya tidak baik terhadap Rasulullah dan kaum Muslimin.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar