Rabu, 26 Oktober 2016

Muhammad dalam Alkitab (Yesaya 29 : 11-18)

       
          “Arti setiap penglihatan akan tersembunyi bagimu, seperti buku yang disegel. Jika buku itu dibawa kepada seorang yang dapat membaca supaya ia membacakannya bagimu, ia akan berkata bahwa ia tidak bisa, karena buku itu disegel. Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: "Baiklah baca ini," maka ia akan menjawab: "Aku tidak dapat membaca.". (11:12)
“Pada waktu itu orang tuli akan dapat mendengar kata-kata dari sebuah buku yang dibacakan, dan orang buta yang tadinya hidup dalam kegelapan akan dapat melihat. Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di dalam TUHAN, dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorak di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel! ”(18:19)

Ayat diatas berkenaan tentang hidayah Allah kepada orang-orang yang mempunyai kitab. Jika Allah berkehendak membuka hati seseorang untuk menerima ilmu, maka Allah akan memberikan cahaya ke dalam hatinya. Dengannya dia mampu memahami ilmu-ilmu yang ada dalam kitab. Namun sebaliknya, sepintar apapun dan sepaham apapun seseorang, jika Allah tidak menghendakinya untuk dapat memahami kitab-kitabnya, maka diapun takkan bisa menafsirkannya. 

“Arti setiap penglihatan akan tersembunyi bagimu, seperti buku yang disegel. Jika buku itu dibawa kepada seorang yang dapat membaca supaya ia membacakannya bagimu, ia akan berkata bahwa ia tidak bisa, karena buku itu disegel.”


Pernakah kita melihat orang yang ahli dalam masalah kitab-kitab Allah. Mereka adalah orang-orang yang bisa membaca. Mereka tidak buta huruf. Mereka telah mempelajari kitab-kitab Allah dengan kemampuan mereka. Akan tapi Allah berkata bahwa kelak mereka takkan lagi bisa menangkap pesan atau hikmah yang berada dalam kitab itu. Hikmah dan arti dalam kitab-kitab itu akan tersembunyi bagi mereka sehingga merekapun tak lagi mampu mengambil pelajaran darinya.
Allah telah menjadikan hikmah dalam kitab tersebut seperti kitab yang disegel. Kitab yang dimaterai sehingga takkan ada orang yang mampu membukannya kecuali orang yang dikehendaki Allah. Padahal mereka adalah orang-orang yang bisa membaca dan bisa mempelajarinya tetapi tatkala mereka diminta untuk mengambil makna dibaliknya mereka menjawab bahwa mereka tak bisa membacanya. Kenapa?, karena Allah tidak mengizinkan mereka untuk mengambil makna serta hikmah-hikmah di dalamnya. Sekalipun mereka bisa membacanya dan memahaminya, namun pemahaman dan penafsiran yang mereka buat tidak sesuai dengan maksudnya. Pemahaman mereka akan jauh sekali dari makna yang sesungguhnya. Membaca yang dimaksud dalam ayat ini bukan hanya membaca dengan mulut namun membaca untuk mengambil hikmah dan pelajaran darinya.
Kita lihat lagi ayat selanjutnya,

“Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: "Baiklah baca ini," maka ia akan menjawab: "Aku tidak dapat membaca.”

Orang yang kedua adalah orang yang tidak bisa membaca atau buta huruf. Allah berkata bahwa kelak, dia akan menyuruh seorang yang buta huruf untuk membaca kitab-Nya. Namun karena dia tidak bisa membaca, maka dia akan menjawab bahwa dirinya tidak bisa membaca.
Kelak ilmu serta wahyu-Nya akan diperintahkan untuk dibaca oleh seseorang yang buta huruf. Dia tidak seperti yang pertama tadi. Dia bukanlah seseorang yang bisa membaca. Dia juga bukan seseorang yang pandai memahami kitab-kitab Allah. Mereka yang pertama tadi, adalah orang-orang yang mempunyai pemahaman tentang kitab-kitab Allah. Tetapi orang yang satu ini adalah benar-benar buta huruf. Jika orang ini diminta untuk membaca maka dia akan menjawab, “Aku tidak bisa membaca”.
Disinilah letak perbedaannya. Yang pertama tadi adalah orang-orang yang bisa membaca. Merekapun mempelajari ayat-ayat Allah yang ada di dalam kitabnya. Namun tatkala mereka diperintahkan untuk membacanya (mengambil hikmah), mereka tidak bisa. Sedangkan yang satu ini, tatkala Allah perintahkan untuk membaca, dia berkata bahwa tidak bisa membacanya. Bukan karena Allah menyembunyikan hikmah darinya atau bukan karena kitab itu disegel (ditutup) tetapi semata-mata karena dia adalah seorang buta huruf.

“Arti setiap penglihatan akan tersembunyi bagimu, seperti buku yang disegel. Jika buku itu dibawa kepada seorang yang dapat membaca supaya ia membacakannya bagimu, ia akan berkata bahwa ia tidak bisa, karena buku itu disegel. Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: "Baiklah baca ini," maka ia akan menjawab: "Aku tidak dapat membaca.". (11:12)

Nubuat ini adalah semata-mata untuk Rasulullah.
Kita tahu di zaman dahulu sangat sedikit orang-orang yang bisa membaca. Kebanyakan mereka yang bisa membaca adalah orang-orang yang mempunyai kedudukan ataupun dilahirkan dari keluarga yang berada dan berpendidikan pula. Nabi Muhammad bukanlah mereka. Sejak kecil beliau menjadi yatim piatu. Kehidupannya dijalani bersama pamannya yang tak begitu kaya. Di usia muda beliau menggembalakan kambing keluarganya. Dan ketika meranjak dewasa, beliau mendagangkan barang dagangan Khadijah.   
Dia tidak dilahirkan dari keluarga Pendeta yang mungkin memberinya kesempatan untuk belajar dan membaca. Tak pernah dia belajar kitabnya Musa atau perkataannya Isa. Meski sudah ada komunitas Ahli Kitab di Mekkah saat itu, namun dia tak pernah pergi secara khusus untuk belajar agama kepada mereka.
Akan tetapi, beliau adalah seseorang yang punya hati sebening kristal. Hatinya belum ternodai oleh pemujaan berhala. Beliau dikenal hanif, lurus dalam kehidupannya. Akhlaknya seindah burung merpati, lembut dan ramah. Kejujurannya dan sifat amanahnya menjadi buah bibir orang-orang saat itu. Sehingga gelar Al-Amin pun diberikan kepadanya.

“Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: "Baiklah baca ini," maka ia akan menjawab: "Aku tidak dapat membaca.”

Nubuat diatas menjadi terbukti dengan persitiwa turunnya wahyu yang pertama. Aisyah, istri Rasulullah, berkata perihal proses awal turunnya wahyu kepada Rasulullah,  

             “Proses awal turunnya wahyu kepada Rasulullah saw. adalah mimpi yang baik di dalam tidur. Beliau tidak pernah bermimpi melainkan akan menjadi kenyataan seperti merekahnya cahaya subuh. Kemudian beliau gemar bersunyi (menyendiri). Beliau sering bersunyi di Gua Hira. Beliau beribadah di sana, yakni beribadah beberapa malam sebelum rindu kepada keluarga beliau, dan mengambil bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah. Beliau mengambil bekal seperti biasanya sehingga datanglah kepadanya kebenaran. Ketika beliau ada di Gua Hira, datanglah malaikat seraya berkata, 'Bacalah!' Beliau berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca. Ia mengambil dan mendekap saya sehingga saya lelah. Kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata, 'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca:' Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang kedua kalinya, kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata, 'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak bisa membaca' Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang ketiga kalinya, kemudian ia melepaskan saya. Lalu ia (Malaikat) membacakan,

            “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

            Nubuat ini adalah nubuat untuk Rasulullah. Seperti yang dikatakan ayat itu, bahwa kelak seseorang yang buta huruf akan diminta baca oleh seseorang yang Allah perintahkan. Maka apabila dia diminta untuk membaca dia akan menjawab, “saya tidak bisa membaca”.

            “Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: "Baiklah baca ini," maka ia akan menjawab: "Aku tidak dapat membaca.”

Bayangkan, Jika suatu hari anda dalam keadaan seperti yang dialami oleh Rasulullah. Anda sedang bersunyi atau berdiam diri di sebuah tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian. Ruangannya gelap dan tak ada siapapun di dalamnya. Kemudian tatkala anda sedang khusyuknya menyendiri, tiba-tiba sesosok mahluk besar yang berbeda dimensi mendatangai anda. Dia memeluk anda dan mendekap anda. Kemudian dia menyuruh anda membaca, padahal anda sadar bahwa anda adalah seorang buta huruf. Apa yang  akan anda jawab?. Saya yakin dengan serta merta anda pasti menjawab, “Saya enggak bisa membaca”. Di saat itu jantung anda berdetak sangat kencang, mata anda terbelalak, bulu kuduk anda berdiri, anda benar-benar terdesak. Namun mahluk tersebut justru menyuruh membaca. Padahal anda menyadari bahwa anda tidak bisa membaca. Apa bisa kita menjawab selain jawaban, “Saya tidak bisa membaca”.
Ada hikmah yang besar dalam ayat yang kita pelajari kali ini. Nubuat ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa kenabian bukanlah rencana yang dibuat “kemarin sore”. Wahyu tidak diturunkan secara ujug-ujug tanpa ada nubuat sebelumnya. Rencana ini adalah Rencana Agung. Rencana ini adalah sebuah ketetapan yang kelak akan terjadi. Semuanya telah digariskan oleh Allah sebelum Dia menciptakan semua mahluk.
Nabi Yesaya hidup 13 abad sebelum kelahiran Rasulullah, namun nubuat yang diberikan kepadanya menjadi kenyataan. Semua yang dikatakannya sesuai dengan apa yang dialami oleh beliau. Bukankah ini bukti akan kebenaran. Kebenaran yang tak bisa disangkal oleh apapun. Kebenaran yang tak bisa didebat oleh dalil apapun. Kebenaran ini benar-benar sebuah kebenaran.
Kemudian kita lihat ayat lain setelahnya,

“Pada waktu itu orang tuli akan dapat mendengar kata-kata dari sebuah buku yang dibacakan, dan orang buta yang tadinya hidup dalam kegelapan akan dapat melihat.”(18)

Maka apabila kitab itu telah dibacakan kepada orang yang buta huruf tadi, sebuah perubahan akan muncul. Akan ada pergeseran keadaan. Kondisinya akan terbalik. Mereka yang selama ini tuli akan dapat mendengar. Mereka yang selama ini buta akan dapat melihat. 
Maksud dari tuli di atas adalah tak pernah atau tak bisa mendengarkan kalamullah dan ajaran kebenaran. Dan yang dimaksud dengan buta adalah tak pernah melihat kebenaran yang sesuai dengan kalamullah. Artinya bahwa kelak, apabila kitab itu telah dibacakan kepada orang yang buta hurif tadi, orang-orang yang tersesat dari ajaran Allah akan mendapatkan petunjuk.
 Bangsa Arab sebelum kedatangan Rasulullah adalah bangsa yang jahiliyah. Mereka tak mengenal arti kehidupan yang sebenarnya dengan artian penyembahan kepada Allah yang Ahad. Mereka belum pernah mendengar wahyu yang dibacakan oleh seorang Rasul. Mereka tak pernah dengar apa itu Tauhid yang murni. Dan merekapun tak pernah mendengar kebaikan-kebaikan yang sesuai dengan tuntunan Ilahi. Akan tetapi, setelah diutusnya Rasulullah, dan dibacakannya Qur’an, mereka mulai mengetahui apa itu kebenaran yang sesungguhnya. Mereka dapat mendengar seruan Allah dan Rasul-Nya. Mereka mulai mengetahui bahwa Allah itu satu dan tidak ada yang menyamainya dengan sesuatu apapun.
Selama ini mereka hidup di dalam kegelapan. Mereka terbiasa meminum khamar dan mabuk hingga menyebabkan mereka saling bertengkar. Mereka terbiasa mengubur anak perempuan mereka dalam keadaan hidup-hidup. Mereka terbiasa menyembah berhala, kuburan, dan benda-benda yang tidak bisa memberikan manfaat. Kegelapan itu sudah lama menyelimuti mereka. Hingga akhirnya, Allahpun mengutus seorang Rasul untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan. Yang tadinya menyembah berhala, berubah dengan penyembahan Allah. Yang tadinya mengubur anak perempuan, berganti dengan pemberian hak-hak mereka. Yang tadinya meminum khamar, berganti dengan pembacaan ayat suci Al-qur’an.
Allah berfirman bahwa sebelum kedatangan Rasulullah, bangsa Arab adalah bangsa yang tersesat,

            “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”, (Al-Jumuah : 2)

Kemudian dikatakan bahwa orang-orang miskin dan sengsara akan bahagia setelah kedatangannya,

“Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di dalam TUHAN, dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorak di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel!”

Kedatangan Islam telah membawa perubahan, khususnya untuk  orang-orang yang miskin dan lemah. Selama ini mereka adalah golongan yang tertindas. Mereka tak mempunyai kuasa jika seandainya hak-hak mereka dirampas. Begitu juga mereka yang miskin, mereka tidak mendapatkan bantuan dalam menjalani kehidupan yang sulit. Kemudian Islam datang dengan syariat yang paling ramah dan peduli dengan mereka. Islam membawa ajaran yang melindungi kaum lemah. Mereka mendapat tempat terhormat dan mempunyai hak seperti manusia lainnya. Islam juga mewajibkan kepada siapa saja yang mempunyai emas, perak, dan pertanian untuk menafkahkan sebagian dari harta-harta mereka jika seandainya memenuhi takaran. Islam juga menganjurkan shodaqoh kepada mereka yang mempunyai harta lebih. Pengayoman Islam terhadap orang-orang miskin juga terlihat dari ayat-ayat Qur’an yang cukup keras mengkritik prilaku mewah dan foya-foya orang kaya. Mereka, dalam Qur’an, disebut pendusta agama jika seandainya mereka tak menganjurkan bersedekah kepada orang miskin apalagi mereka yang bakhil untuk menafkahkan sedikit hartanya.
Sebenarnya ada ayat lain yang akan menambah keyakinan kita akan nubuat ini. Di ayat selanjutnya, nomor 24, dikatakan seperti ini,

“They also that erred in spirit shall come to understanding, and they that murmured shall learn doctrine.”

            “Mereka yang tersesat dari petunjuk akan segera mengerti, dan mereka yang menggerutu akan mempelajari ajaran.”   

          Nubuat ini mengatakan bahwa kelak orang-orang yang belum pernah mengenal ajaran para Nabi akan mengerti. Mereka akan mempunyai ilmu tentang agama yang hak. Sebelumnya mereka adalah orang-orang tersesat. Mereka tidak pernah mempelajari sebuah pemahaman yang memberikan ilmu tentang kebenaran. Namun setelah kitab itu dibacakan kepada orang yang Buta Huruf tadi, mereka akan mengetahui dan mengerti pemahaman-pemahaman yang mereka belum pernah pelajari.  
            Kita lihat, bangsa Arab sebelum kedatangan Islam adalah bangsa yang belum pernah mempelajari kitab-kitab Allah. Mereka adalah penganut agama politheistik murni yang tak mengenal adanya aturan-aturan tertulis dan kitab-kitab wahyu. Semua peribadatan dan perbuatan mereka hanya didasarkan pada warisan nenek moyang yang turun-temurun. Namun, ketika Islam datang. Mereka mulai mempelajari agama dengan pemahaman yang benar. Mereka mempelajai Al-Qur’an dan mereka memahaminya dengan pemahaman yang benar. Mereka mulai mengerti bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. mereka mulai mengerti akan ilmu-ilmu yang sebelumnya mereka tidak tahu. Merekapun menjalaninya sesuai dengan ajaran yang mereka terima dari Rasulullah. Padahal dulunya, mereka adalah orang-orang yang tersesat yang menjalani kehidupan tanpa ada ilmu dan petunjuk yang sesuai dengan tuntunan Tuhan.
            Kemudian dikatakan kelak bahwa orang-orang yang menggerutu (sedangkan dalan naskah Bible yang lain disebut bersungut-sungutyang artinya sama dengan menggerutu) akan mempelajari ajaran yang dibawa oleh orang yang buta huruf itu,

dan mereka yang menggerutu akan mempelajari ajaran.

            Pertanyaannya, siapakah yang dimaksud ayat ini dengan orang yang menggerutu?. Siapakah mereka?, jawabannya tidak lain adalah wanita. Merekalah yang dimaksud ayat ini dengan orang-orang yang menggerutu. Wanita di zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang. Di zaman dulu, wanita lebih lama menghabiskan hidup dan pekerjaannya di rumah. Mereka memasak, membesarkan anak-anak, membersihkan rumah, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya. Kebiasaan mereka jika sudah kesal karena banyaknya pekerjaan dan watak suami mereka yang menyebalkan adalah menggerutu. Mereka akan mengatakan ketidakpuasan dari bilik kamar mereka. Mereka tidak membicarakan omelan-omelan itu kepada suami mereka. Akibatnya, merekapun menggerutu dari balik kamar mereka. 
            Maka apabila kitab itu telah dibacakan kepada orang yang buta huruf tadi akan ada perubahan kepada para wanita. Mereka akan mempelajari ilmu dan ajaran orang yang diwahyukan kepadaorang tadi. Mereka akan mempelajarinya dan menjadi mengerti akan ajarannya.

dan mereka yang menggerutu akan mempelajari ajaran.

          Sebelum Islam datang, wanita mempunyai kedudukan yang rendah dalam masyarakat jahiliyah Arab. Hak-hak mereka terabaikan. Namun setelah Islam datang, mereka mulai mendapatkan hak yang setara dalam Islam. Mereka diberi hak waris, hak cerai, dan hak-hak lainnya. Dan tentunya hak untuk mempelajari ilmu agama. Dalam Islam, perempuan dibolehkan untuk mempelajari ilmu agama. Mereka dibolehkan selagi yang dipelajari adalah ilmu agama. Kita bisa lihat wanita-wanita yang mempunyai derajat tinggi di masyarakat Islam saat itu seperti Aisyah. Beliau adalah istri dari Rasulullah yang mempunyai banyak ilmu dan banyak meriwayatkan hadits darinya. Padahal sebelumnya, kaum wanita adalah kaum yang hanya bisa menghabiskan kesehariannya di bilik kamar dan mungkin juga menggerutu sesekali. Namun setelah Islam datang, mereka diizinkan untuk mempelajari ilmu agama. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar