Rabu, 26 Oktober 2016

Muhammad dalam Alkitab (Yesaya : 32:1-8)


"Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan, dan seseorang akan seperti tempat perlindungan dari angin dan tempat perlindungan dari badai, seperti aliran-aliran air di tempat kering, seperti naungan batu yang besar, di tanah yang tandus. Mata orang-orang yang melihat tidak lagi akan tertutup, dan telinga orang-orang yang mendengar akan memperhatikan. Hati orang-orang yang terburu nafsu akan tahu menimbang-nimbang, dan lidah orang-orang yang gagap akan dapat berbicara jelas. Orang keji tidak akan disebutkan lagi orang yang berbudi luhur, dan orang yang tak beradab tidak akan dikatakan terhormat. Sebab orang keji mengatakan kekejiannya, dan hatinya merencanakan yang jahat, yaitu melakukan kemunafikan dan mengatakan ketidakbenaran tentang TUHAN, membiarkan kosong perut orang lapar dan orang haus kekurangan minuman. Kalau penipu, akal-akalnya adalah jahat, ia merancang perbuatan-perbuatan keji untuk mencelakakan orang sengsara dengan perkataan dusta, sekalipun orang miskin itu membela haknya.Tetapi orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selalu bertindak demikian.” (Yesaya : 32:1-8)


Di ayat ini kita akan melihat sebuah nubuat tentang seorang Raja yang memerintah menurut kebenaran. Setelah Raja itu mangkat, maka dia akan digantikan oleh pengganti-penggantinya yang sama adilnya. Kenapa saya memasukkan ayat ini ke dalam nubuat tentang Nabi Muhammad. Apa hubungannya dengan beliau. Seperti yang saya sebutkan di awal, nubuat adalah  perkataan yang sifatnya penuh dengan kiasan dan makna simbolis, artinya dia tidak berkata secara to the point tapi mempunyai kata yang luas dengan makna yang lebih mengena dengan kejadian yang dimaksud. Anda mungkin tidak menyadari bahwa sesungguhnya nubuat tentang Nabi Muhammad mempunyai “kata kunci” yang jika kita melihatnya maka kita akan menemukannya. Kata kunci nubuat tentang beliau dalam Kitab Perjanjian Lama adalah buta huruf. Itu seperti yang dikatakan oleh Allah dalam surat Al-A’raf yang saya tulis di bab sebelumnya. Kata kunci inilah yang menjadi pembuka untuk melihat nubuat-nubuat tersebut.
Buta huruf adalah orang yang tidak bisa membaca. Mereka tidak bisa membaca karena mereka memang dari kecil tidak pernah diajarkan membaca. Jika seandainya mereka disuruh membaca maka mereka akan membaca dengan tergagap-gagap. Kata kunci itu akan kita temukan dalam nubuat ini juga.
            Nubuat-nubuat ini tidak lain adalah nubuat yang akan mengabarkan pemerintahan yang diemban oleh Rasulullah Shollalahu alayhi wasallam beserta penerus-penerusnya yang disebut dengan Khulafaur Rasyidun (Para Pemimpin yang diberi petunjuk). Mungkin sebagian anda tidak yakin dengan apa yang saya katakan. Namun kita lihat nanti, mengapa saya berani memasukkan ayat ini ke dalam nubuat yang menceritakan pemerintahan Islam yang terawal. Yaitu sebuah pemerintahan yang dilandasi pada Qur’an dan Sunnah. Pemerintahan yang dikenal sebagai masa Keemasan Islam.   
    
            Behold, a king shall reign in righteousness, and princes shall rule in judgment. (Bible versi authorized version 1769)

            “Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan"

            Nabi Yesaya mengatakan bahwa kelak akan muncul seorang Raja yang memerintah menurut kebenaran. Dia adalah seorang pemimpin yang adil dan menjalankan pemerintahannya dengan keadilan. Pertanyaannya, siapakah Raja ini? Siapakah Raja yang dinubuatkan oleh Yesaya. Beliau tidak mengatakan nama dan ciri orang tersebut namun dia hanya mengatakan bahwa Raja tersebut akan memerintah menurut kebenaran. Dia tidak memerintah hanya atas dasar pikiran dan keinginannya saja tapi dia memerintah menurut kebenaran.
Kebenaran yang dimaksud adalah risalah Allah (wahyu). Itulah yang dimaksud olehnya kebenaran. Ciri kedua dari Raja tersebut adalah bukan dia saja yang memimpin dengan kebenaran dan keadilan, tapi penerus-penerusnya yang akan menggantikannya kelak juga akan bertindak adil. Merekapun akan menjalani roda pemerintahannya dengan keadilan. Karenanya disebutkan bahwa kelak Princes dari raja tersebut akan menggantikannya seperti dia. Mereka akan menjadi raja yang adil.   

Behold, a king shall reign in righteousness, and princes shall rule in judgment.

            “Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan"

            Princes secara harfiah berarti Pangeran yang akan menjadi Raja. Dalam ayat tersebut dikatakan secara jamak, yang berarti pemimpin-pemimpin. Pangeran adalah anak Raja yang di zaman dahulu menjadi putra mahkota. Mereka biasanya menjadi Raja setelah ayahnya meninggal. Untuk ayat ini, Princes bisa diartikan sebagai penerus-penerus dari Raja tersebut. Merekapun akan menjalani kepemimpinannya dengan risalah Allah dan keadilan.

             And a man shall be as an hiding place from the wind, and a covert from the tempest; as rivers of water in a dry place, as the shadow of a great rock in a weary land. (Bible versi authorized version 1769)

dan seseorang akan seperti tempat perlindungan dari angin dan tempat perlindungan dari badai, seperti aliran-aliran air di tempat kering, seperti naungan batu yang besar, di tanah yang tandus.

             Kemudian dikatakan bahwa kelak seseorang diantara pemimpin itu akan menjadi pemimpin yang menaungi rakyatnya dari kedzaliman orang lalim. Dia seperti tempat berlindung dari kerasnya badai dan seperti batu yang menaungi dari panasnya matahari. Dia akan melindungi rakyatnya dari orang yang suka merampas hak. Dia tak seperti pemimpin lainnya yang jarang ikut mengadili kaumnya atau sungkan untuk melindungi rakyatnya. Dia adalah pemimpin yang dekat dengan rakyat. Kepemimpinannya dapat ditemui oleh semua orang.

            Mata orang-orang yang melihat tidak lagi akan tertutup, dan telinga orang-orang yang mendengar akan memperhatikan.

            Ketika itu keadaan manusia dalam keadaan yang diberi petunjuk oleh Allah. Mereka semua sudah mengenal kebenaran. Mata mereka sudah terbuka untuk melihat ayat-ayat Allah dan kebenaran yang diberikan. Mata mereka tidak akan kembali tertutup dan buta dari melihat kebenaran yang hakiki. Begitupula dengan telinga-telinga mereka. Mereka yang sudah mendengar kebenaran takkan kembali tuli, justru sebaliknya, mereka akan memperhatikan dari perkataan dan kebenaran yang dikatakan.

            Hati orang-orang yang terburu nafsu akan tahu menimbang-nimbang,

         Kemudian dikatakan bahwa kelak orang-orang yang biasanya terburu-terburu/tergesa-gesa dalam melakukan sebuah perbuatan atau perkataan akan lebih berhati-hati. Mereka akan menimbang segala perbuatan dan perkataan mereka sebelum bertindak. Hal itu terjadi akibat kebenaran yang mereka pahami dan ketahui dari Sang Raja yang pertama. Biasanya, mereka berkata dan berbuat tanpa ada pertimbangan, tapi setelah adanya Raja dan penerus-penerusnya, maka mereka akan takut karena akan ada hukuman yang akan mereka terima jika seandainya mereka melakukan perbuatan yang melanggar. Itulah sebab mengapa mereka lebih berhati-hati ketika ingin berbuat sesuatu.

            dan lidah orang-orang yang gagap akan dapat berbicara jelas.

            Di nubuat inilah kita menemukan kata kunci yang saya maksud. Dikatakan bahwa kelak setelah Raja dan penerus-penerusnya memimpin, maka orang-orang yang gagap akan berbicara dengan jelas. Mereka akan berkata-kata tanpa ada hambatan. Orang-orang yang berbicara secara gagap adalah nubuat simbolis dari orang yang buta huruf. Mereka, seumur hidupnya, tak pernah belajar membaca atau bahkan membaca sebuah kitab, dan apabila seandainya mereka disuruh membaca, niscaya mereka akan mengatakannya secara terbata-bata. Mereka takkan berbicara secara jelas namun penuh hambatan.  
            Dengan adanya nubuat ini, jelaslah bahwa Raja dan penerus-penerusnya yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah Bangsa Israel. Bukan mereka yang dimaksudkan. Karena sudah jelas bahwa rakyat/manusia yang dinubuatkan oleh ayat ini adalah bangsa yang buta huruf. Bangsa Israel bukanlah bangsa yang buta huruf. Mereka adalah bangsa yang mempunyai tingkat literasi lebih tinggi dibanding dengan bangsa lain. Kenapa?, karena mereka mempunyai banyak kitab. Kepada merekalah diberikan banyak kitab-kitab Samawi yang menjadikan mereka terbiasa untuk membaca dan belajar membaca. Karenanya mereka disebut Ahlul Kitab.
            Sedangkan dalam ayat ini, disebutkan bahwa rakyat atau orang-orang kala itu dulunya adalah orang yang buta huruf. Mereka tidak terbiasa membaca dan belajar membaca karena dalam masyarakat mereka tak terdapat kebiasaan yang mengharuskan mereka untuk membaca. Mereka tak mempunyai kitab yang dibacakan atau dibaca dengan diri mereka sendiri.
            Nubuat ini mengatakan bahwa kelak orang-orang yang sebelumnya buta huruf akan menjadi orang-orang yang bisa membaca setelah Raja dan penerus-penerusnya memimpin mereka. Kebiasaan membaca akan meluas dalam masyarakat. Lidah mereka akan semakin fasih dan mereka takkan lagi berbicara secara terbata-bata.

            Orang yang keji tidak akan disebutkan lagi orang yang berbudi luhur, dan orang yang tak beradab tidak akan dikatakan terhormat. Sebab orang  yang keji mengatakan kekejiannya, dan hatinya merencanakan yang jahat, yaitu melakukan kemunafikan dan mengatakan ketidakbenaran tentang TUHAN, membiarkan kosong perut orang lapar dan orang haus kekurangan minuman. Kalau penipu, akal-akalnya adalah jahat, ia merancang perbuatan-perbuatan keji untuk mencelakakan orang sengsara dengan perkataan dusta, sekalipun orang miskin itu membela haknya.

            Perubahan terbesar setelah adanya Raja dan penerus-penerusnya itu adalah bergantinya citra setiap orang. Sebelumnya, orang-orang yang keji dan tidak bermoral dianggap mulia karena mereka mempunyai uang dan harta yang banyak. Tapi, apabila Raja dan penerus-penerusnya telah memimpin, mereka takkan lagi dianggap mulia. Mereka akan dinilai sebagai orang yang hina di masyarakat. Karena mereka telah berbuat kejahatan dan tidak peduli dengan kebenaran. Meskipun mereka mempunyai harta yang banyak namun mereka tidak memberikan sebagiannya kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang lemah.
            Sebelum adanya kepemimpian yang baru, orang-orang miskin dan orang-orang yang lemah hidup dalam penderitaan. Mereka tidak mempunyai tempat bernaung dari kesusahan hidup. Dan lebih dari itu, hak-hak merekapun dirampas oleh orang-orang yang hina. Mereka tidak dihiraukan oleh orang-orang yang hina itu.
            Setelah adanya kepemimpinan yang baru, maka keadaannya akan berbalik. Seseorang akan dianggap mulia jika dia berlaku baik sesuai dengan kebenaran dan orang-orang yang miskin dan lemah akan diberi haknya dan dinaungi oleh para pemimpin itu,  

            Tetapi orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selalu bertindak demikian

          Muncul pertanyaan, mengapa bisa ada perubahan yang drastis setelah kepemimpinan raja dan penerus-penerusnya tersebut hadir. Apa ada sebuah gerakan yang besar sehingga tatanan masyarakat berubah?, atau mungkin ada sebuah revolusi yang mengakibatkan mereka menjadi lebih teratur?. Jawabannya tidak. Tidak ada sebuah gerakan terorganisir ataupun revolusi yang membuat tatanan masyarakat berubah. Perubahan itu terjadi semata-mata karena kepemimpinan, keadilan, dan kebenaran yang diberikan oleh Raja dan penerus-penerusnyalah. Perubahan itu hadir karena adanya kesatuan persepsi dan keyakinan dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah, sehingga masyarakat berubah ke keadaan yang lebih baik.
            Yang juga membuat perubahan itu hadir adalah adanya kebiasaan membaca. Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa mereka dulunya adalah orang-orang yang buta huruf. Mereka tidak bisa membaca dengan jelas dan baik. Namun setelah adanya kebiasaan membaca yang meluas dalam masyarakat itu, mereka akan berkata-kata dengan lebih fasih. Mereka akan mempunyai pengetahuan tentang kebenaran dan firman Tuhan.  
           
Nubuat tentang Kekhalifahan Islam

            Nubuat yang baru kita baca adalah nubuat yang mengabarkan tentang kepemimpinan Rasulullah dan para penerusnya. Sebuah nubuat yang akan mengungkapkan masa keemasan Islam dibawah pemimpin-pemimpin yang beriman dan adil.

             Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpinakan memimpin menurut keadilan

       Nubuat yang pertama mengatakan bahwa kelak akan muncul seorang Raja yang memerintah menurut kebenaran. Yakni dia memimpin rakyatnya sesuai petunjuk dan perintah Allah.
      Nabi Muhammad adalah seorang nabi yang mempunyai peran lengkap dalam masyarakat. Dia tidak hanya berperan dalam hal keagamaan dan peribadatan, tapi juga kenegaraan. Dia mempunyai peran penting di madinah dalam berbagai hal seperti mengatur hubunganantar komunitas, menjalankan dan memerintahkan hukum Allah,  menjadi tempat pengaduan rakyat, dan memimpin pasukan dalam berperang. Itu semua adalah sebagian dari banyaknya peran yang dimilikinya sebagai pemimpin Madinah saat itu.
        Ketika Nabi Muhammad datang ke Madinah, beliau dijadikan pemimpin oleh penduduk Madinah dan Kaum Muslimin. Dulunya, mereka adalah kaum yang terpecah ke dalam berbagai suku, namun semenjak mereka memeluk Islam, kepemimpinan mutlak berada di tangan Rasulullah. Beliau dijadikan tempat bernaungnya umat kala itu. Meskipun beliau tak mempunyai fasilitas-fasilitas yang mendukung sebuah pemerintahan, namun kepemimpinannya bersifat menyeluruh. Beliau bukan hanya seorang Nabi yang berperan dalam hal keagamaan dan peribadatan melainkan juga kenegaraan. Hal ini bisa terlihat dari perannya dalam berbagai perkara umat yang dipimpinnya. Mulai dari perkara hukum, hubungan antar suku/agama, dan persoalan-persoalan masyarakat lainnya. Beliau menjadi pemimpin yang mengadili perkara umatnya bukan hanya dengan pemikirannya sendiri tapi dengan wahyu. Wahyu yang dia terima dari Tuhannya. Setiap Pemimpin adalahsama dalam kepimimpinannya, namun yang membedakan mereka adalah dasar yang mereka gunakan untuk mengadili sebuah perkara. Ada yang dasarnya hanya pikiran dan kemauannya saja dan ada juga yang menggunakan kebenaran yang objektif.
            Beliau memimpin umatnya dan mengadili perkara-perkara mereka berdasarkan wahyu dan kebenaran. Hal ini terbukti dari banyaknya ayat yang turun yang berkaitan dengan berbagai perkara dan juga ayat yang memerintahkan keadilan dalam memutuskan perkara dalam Qur’an.

             Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan

      Kemudian, dikatakan bahwa kelak pengganti-penggantinya pun akan menjadi pemimpin yang menjalankan kepimpinannya dengan keadilan. Nubuat ini juga sesuai dengan adanya Khulafaur Rosyidin yang menjadi pengganti Nabi Muhammad setelah beliau mangkat dan meninggal. Khulafaur Rosyidin adalah sebutan bagi khalifah-khalifah (pemimpin) yang meneruskan kepemimpinan Rasulullah. Mereka dipanggil dengan Khulafaur Rosyidin karena mereka adalah pemimpin yang menjalani roda kepemimpinannya berdasarkan sunnah Nabi Muhammad.
        Nabi Yesaya mengatakan bahwa kelak para pengganti-penggantinya akan menjalankan roda kepemimpinannya dengan keadilan. Jika disandingkan dengan kepemimpinan Khulafaur Rosyidin, maka nubuat ini menjadi kenyataan. Hal ini terbukti dengan keadilan yang mereka lakukan ketika mereka menjabat pemerintahan itu. Banyak keterangan yang dapat dilihat dalam buku-buku sejarah tentang keadilan mereka.
 Mereka dapat memimpin dengan keadilan karena beberapa hal diantaranya:

a.      Kepimpinan berdasar Qur’an dan Sunnah

Para Sejarawan sepakat bahwa semua Khulafaur Rosyidin yakni Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, telah menjalankan roda pemerintahannya dengan dasar dan fondasi Qur’an dan Sunnah. Mereka semua adalah orang-orang yang dikenal sangat kuat memegang atsar (jejak) yang ditinggalkan oleh Rasulullah. Mereka menjalankan amanah kepemimpinan dengan apa yang mereka lihat dari dua dasar itu. Apa yang mereka lihat benar, maka mereka akan membenarkannya. Dan apa yang mereka lihat salah, mereka akan menyalahkannya. Mereka tidak mengadili perkara umat kala itu berdasarkan ijtihad mereka semata namun juga dilihat dari dua fondasi tersebut.
Banyak sekali keterangan-keterangan yang menyebutkan cara mereka memimpin. Semuanya didasarkan pada dua fondasi yang ditinggalkan oleh Rasulullah. Sehingga ketika mereka menjalani roda kepemimpinan dengan dua fondasi itu, merekapun mengadili setiap perkara umat dengan keadilan.

b.       Sistem Musyawarah

Faktor kedua yang membuat pemerintahan mereka berjalan dengan baik adalah tata cara mereka mengambil keputusan. Kita bisa lihat bagaimana mereka mengambil keputusan dengan bermusyawarah dengan orang-orang yang ahli dalam hal agama dan orang-orang berkompeten. Mereka tidak mengambil keputusan hanya didasari pada kepentingan mereka atau kepentingan satu kelompok, namun dilihat dari sejauh mana keputusan itu sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Keputusan-keputusan mereka dikenang sepanjang masa. Merekalah orang-orang yang berjasa dalam penyebaran Islam ke seluruh Jazirah.

Dua hal itulah yang menjadi faktor penting mengapa Khilafah Islam yang disebut oleh banyak orang sebagai masa Keemasan Islam itu berjalan dengan keadilan. Banyak sekali kisah dan keterangan yang mengulas keadilan para Khalifah yang tak bisa sebutkan disini. Anda bisa membacanya dalam biografi-biografi tentang mereka.     

dan seseorang akan seperti tempat perlindungan dari angin dan tempat perlindungan dari badai, seperti aliran-aliran air di tempat kering, seperti naungan batu yang besar, di tanah yang tandus.

            Dan dikatakan bahwa seorang diantara mereka akan seperti tempat bernaungnya rakyat dalam meminta keadilan. Dia adalah sosok pemimpin yang kuat seakan-akan dia adalah batu besar yang melindungi orang yang berlindung dibawahnya. Dia seperti tempat berlindung dari kerasnya badai dan seperti batu yang menaungi dari panasnya matahari. Dia adalah tempat bernaungnya rakyat dari orang-orang yang suka merampas hak dengan batil.
            Lalu, siapakah orang tersebut?, siapakah orang yang dimaksud oleh Nabi Yesaya. Tiada lain dan tiada bukan, orang itu adalah Umar bin Khottob. Beliaulah yang dimaksud dalam ayat ini.
            Umar adalah salah seorang pemimpin (Khalifah) dari empat pemimpin yang disebut Khulafaur rasyidin. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang sangat adil dan selalu perhatian dengan rakyatnya. Dia juga dikenal karena sikap bersahajanya yang tak suka dengan kemewahan. Beliau adalah pemimpin yang selalu menjadi tempat mengadunya rakyat dari mereka yang suka merampas hak. Dibawah ini adalah bukti akan kepemimpinannya yang kuat seperti tempat bernaung,
      Dikatakan oleh seorang Sejarawan bahwa takala Islam sudah hadir di Mesir, Gubernurnya waktu itu ingin mendirikan masjid. Yang menjadi masalah adalah tempat bangunan itu bersebelahan dengan sebuah gubuk reot milik seorang Kakek yang beragama Yahudi. Ketika diminta agar gubuknya dihancurkan dengan diberi ganti uang, orang Yahudi itu menolak. Namun akhirnya rumahnyapun dirobohkan. Melihat itu orang Yahudi itu marah dan diapun berniat untuk mengadukannya kepada Khalifah yang waktu itu dijabat oleh Umar bin Khottob. Diapun pergi ke Madinah untuk bertemu Umar, dan alangkah kagetnya ia tatkala melihat Sang Pemimpin yang dikiranya penuh dengan penjagaan dan aksesoris, namun terlihat sangat sederhana. Dilihatnya Sang Amir sedang duduk di serambi masjid, tanpa penjagaan ataupun pengawal.
Diapun mengadukan perihal tersebut kepada Umar. Mendengar itu Umar marah dan  Yahudi itu diminta untuk mengambil tulang belikat unta dari tempat sampah lalu diserahkannya tulang itu kepadanya. Umar lalu menggores tulang tersebut dengan huruf alif yang lurus dari atas ke bawah. Dan di tengah goresan tersebut ada lagi goresan melintang menggunakan ujung pedang, lalu tulang itu pun diserahkan kembali kepada orang Yahudi lalu berpesan : “Bawalah tulang ini baik-baik ke Mesir dan berikanlah kepada Gubernur Amr bin ‘Ash” jelas Khalifah Umar bin Khattab. Si Yahudi itu kebingungan ketika disuruh membawa tulang yang telah digores dan memberikannya kepada Gubernur Amr bin ‘Ash. Sang gubernur langsung pucat pasi dan menggigil ketika menerima tulang tersebut. Saat itu juga sang gubernur langsung mengumpulkan rakyatnya untuk membangun kembali gubuk yang reot milik orang Yahudi itu.

“Bongkar masjid itu!”, teriak Gubernur Amr bin ‘Ash gemetar. Orang Yahudi itu merasa heran dan tidak mengerti tingkah laku Gubernur.

“Tunggu!” teriak orang Yahudi itu. “Maaf Tuan, tolong jelaskan perkara pelik ini. Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu sehingga Tuan berani memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan yang amat mahal ini? Sungguh saya tidak mengerti.”

Gubernur Amr bin ‘Ash memegang pundak orang Yahudi sambil berkata: “Wahai kakek, tulang ini hanyalah tulang biasa dan baunya pun busuk. Akan tetapi tulang ini merupakan peringatan keras terhadap diriku dan tulang ini merupakan ancaman Khalifah Umar bin Khattab. Artinya apa pun pangkat dan kekuasaanmu, suatu saat kamu akan bernasib sama seperti tulang ini, karena itu bertindak adillah kamu seperti huruf Alif yang lurus. Adil di atas, dan adil di bawah. Sebab kalau kamu tidak bertindak adil dan lurus seperti goresan tulang ini, maka Khalifah tidak segan-segan untuk memenggal kepala saya”, jelas Gubernur tersebut. orang Yahudi itu tunduk terharu dan terkesan dengan keadilan dalam Islam.

“Sungguh agung ajaran agama Tuan. Sungguh aku rela menyerahkan tanah dan gubuk itu. Bimbinglah aku dalam memahami ajaran Islam!”

Akhirnya orang Yahudi itu mengikhlaskan tanahnya untuk pembangunan masjid dan dia sendiri langsung masuk agama Islam. 

            Kisah itu adalah kisah yang mahsyur dan menjadi bukti akan keadilan dan kedekatan Umar bin Khottob dengan rakyatnya. Dia tetap bersifat adil meski orang yang mengadu tadi adalah seorang yahudi. Ada banyak keterangan yang menggambarkan keadilan Umar bin Khottob. Itu semua dapat diihat dalam buku sejarah dan biografi tentangnya.

            Mata orang-orang yang melihat tidak lagi akan tertutup, dan telinga orang-orang yang mendengar akan memperhatikan.

            Nubuat selanjutnya mengatakan bahwa ketika Raja dan para penerusnya memegang kepemimpinan itu, rakyat yang mereka pimpin adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah. Mata mereka telah melihat kebenaran yang diberikan oleh Sang Raja dan merekapun akan tetap mengimaninya. Begitupula dengan telinga mereka yang telah mendengar wahyu yang dibacakan. Mereka akan semakin percaya dengan kebenaran itu dan mereka takkan berpaling.
Ketika itu orang-orang sudah mengenal kebenaran. Hati mereka sudah mengenal ajaran kebenaran dan telinga mereka sudah mendengarkan wahyu yang dibacakan. Maka ketika mereka sudah mengenalnya, mereka takkan berpaling ke belakang. Justru, mereka akan semakin melihat kebenaran itu. Mereka akan semakin betah untuk mendengarkan wahyu yang dibacakan.
             Nubuat ini juga sesuai dengan yang terjadi tatkala Khilafah Islamiyah memegang pemerintahan. Waktu itu semua orang yang hidup dibawah kekuasaan Islam adalah orang-orang Islam yang mana mereka sudah mengenal Islam. Mereka, dahulunya adalah orang-orang yang tak mengenal kebenaran, namun ketika mereka mulai mempelajari Islam dari Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, mereka semakin yakin dengan agama itu. Hati mereka terbuka dan telinga mereka mencatat. Mereka meyakini bahwa hanya Islamlah ajaran yang benar. Padahal dulunya mereka adalah orang-orang yang tersesat. Mereka menyembah berhala dan melakukan kemungkaran-kemungkaran lainnya.

            “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”, (Al-Jumuah : 2)

Setelah mereka masuk Islam, mereka mulai melihat kebenaran dan mendengarkan wahyu yang dibacakan. Hal itu membuat mereka semakin yakin dengan keyakinan yang baru mereka anut.

            Hati orang-orang yang terburu nafsu akan tahu menimbang-nimbang

            Nubuat selanjutnya mengatakan bahwa kelak, orang-orang akan berhati-hati jika seandainya mereka ingin memuaskan nafsu mereka dengan perbuatan tercela. Mengapa bisa begitu? Jawabannya, karena Raja dan para penerusnya itu akan menerapkan hukuman yang keras yang mengatur perbuatan-perbuatan tercela tersebut. Sebelumnya, orang-orang bebas untuk melakukan hal-hal yang mereka ingini karena memang tak ada hukuman yang akan mereka terima. Namun apabila Raja dan para penerusnya itu telah memegang jabatan, mereka akan menerapkan hukuman dan aturan dalam beberapa perkara. Akibatnya, rakyatpun berhati-hati dan mereka tidak seenaknya melakukan apa yang mereka inginkan. Karena, jika apa yang mereka lakukan itu melanggar aturan yang diterapkan oleh Raja, merekapun akan  dihukum.
            Nubuat inipun sesuai dengan apa yang terjadi ketika Khilafah Islamiyah berdiri. Sebelum adanya pemerintahan Islam, orang-orang waktu itu tidak takut atas perbuatan yang mereka lakukan. Mereka terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum tanpa ada rasa kehati-hatian. Mereka terbiasa berjudi tanpa rasa takut, meminum arak tanpa rasa takut, dan berzina dan memperkosa tanpa rasa takut, dan melakukan perbuatan-perbuatan tercela lainnya tanpa rasa takut. Hal itu terjadi karena tak ada seorangpun yang melarang mereka dan menghukum mereka.
 Namun lihatlah ketika Rasulullah dan penerus-penerusnya memegang kepemimpinan mereka, keadaannya menjadi berbalik. Mereka lebih berhati-hati dalam melakukan perbuatan nafsu mereka. Hal ini terjadi karena Pemerintahan Islam menerapkan hukuman yang berat bagi siapa saja yang melakukan perbuatan tercela. Misalnya minum arak, maka hukumannya adalah dera (cambuk) 80 kali. Hukuman orang yang berzina bagi yang sudah memiliki pasangan adalah ditimpuki dengan batu hingga meninggal. Hukuman-hukuman yang berat itu secara langsung membuat mereka berhati-hati dan takut untuk berbuat tercela. Khilafah Islamiyah memang sangat ketat menghukum orang-orang yang melanggar perbuatan dosa. Hukuman-hukuman itu ditegakkan oleh pemerintah sebagai wujud dari penerapan hukum Islam.

            dan lidah orang-orang yang gagap akan dapat berbicara jelas.

            Kemudian dikatakan bahwa kelak orang-orang yang berbicara terbata-bata akan berbicara dengan lancar. Orang-orang yang gagap adalah kiasan dari orang yang  buta huruf. Orang yang buta huruf apabila disuruh membaca maka dia akan membacanya dengan tergagap-gagap. Nubuat ini juga sesuai dengan apa yang terjadi waktu itu. Jika kita perhatikan, sesungguhnya bangsa Arab sebelum Islam adalah bangsa yang tak terlalu memperhatikan baca/tulisan. Maksudnya, kebanyakan orang waktu itu tidak bisa membaca karena memang begitulah keadaannya. Mereka adalah bangsa yang pagan. Berbeda dengan bangsa Yahudi yang mana mereka mempunyai banyak kitab-kitab samawi yang secara tidak langsung kebiasaan membaca menjadi sesuatu hal yang lumrah bagi mereka. Dalam Qur’an disebutkan bagaimana orang-orang Yahudi memanggil orang-orang Arab dengan orang-orang yang buta huruf,

            “Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang umi (buta huruf). Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.” (Ali Imron : 75)

            Dalam Qur'an disebutkan bahwa nabi Muhammad diutus kepada kaum yang buta huruf,

             “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (AsSunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”, (Al-Jumuah:2)

 Hanya sedikit diantara mereka yang bisa membaca dan menulis. Namun lihatlah apa yang terjadi setelah Rasulullah datang ke tengah-tengah mereka. Beliau membacakan Qur'an kepada mereka dan merekapun belajar untuk membacanya di rumah-rumah mereka. Mereka mulai belajar untuk membaca Kitab itu dan membiasakan anak-anak mereka untuk membacanya. Perbuatan ini dikerjakan oleh mereka dan dilestarikan secara turun-temurun. Dan akhirnya, Bangsa Arab yang dulunya dikenal sebagai bangsa yang buta huruf itu menjadi bangsa yang fasih berkata-kata dan pandai menulis. Mereka menjadi bangsa yang dikenal karena sastra dan tulisannya. Hal itu terjadi akibat pengaruh pembacaan Al-Qur’an yang terjadi semenjak Islam hadir.
            Perubahan lainnya yang akan terjadi setelah Raja itu datang adalah berubahnya citra orang yang buruk,

            Orang yang keji tidak akan disebutkan lagi sebagai orang yang berbudi luhur, dan orang yang tak beradab tidak akan dikatakan terhormat. Sebab orang yang keji mengatakan kekejiannya, dan hatinya merencanakan yang jahat, yaitu melakukan kemunafikan dan mengatakan ketidakbenaran tentang TUHAN, membiarkan kosong perut orang lapar dan orang haus kekurangan minuman. Kalau penipu, akal-akalnya adalah jahat, ia merancang perbuatan-perbuatan keji untuk mencelakakan orang sengsara dengan perkataan dusta, sekalipun orang miskin itu membela haknya.

            Selanjutnya, dikatakan bahwa kelak orang-orang yang hina dan tercela takkan lagi mendapat kedudukan di masyarakat. Mereka akan dinilai sesuai dengan perbuatan mereka yang tercela. Mereka adalah orang yang hina namun karena mempunyai kekayaan dan harta yang banyak mereka dihormati di masyarakat. Tapi hal itu takkan terjadi lagi. Kelak, apabila Raja dan penerus-penerusnya itu memegang kepemimpinan, mereka akan dicela akibat perbuatan mereka.
            Sebelum Islam datang, orang-orang Kafir Mekkah terbagi menjadi beberapa golongan. Di antara mereka adalah sebagian orang-orang kaya yang mempunyai harta dan kekayaan yang melimpah. Mereka mempunyai kedudukan di mata masyarakat. Namun hal itu terjadi bukan karena sikap mereka yang dermawan dan suka menolong orang miskin, justru sebaliknya. Mereka dikenal enggan untuk menolong orang-orang miskin. Buktinya bisa anda lihat dalam Qur’an. jika anda melihat ayat-ayat Makkiyah, ada beberapa ayat yang mengecam orang-orang Kafir yang kaya raya yang mana mereka enggan menolong orang-orang miskin. Merekapun menolak ajaran yang diserukan oleh Rasulullah. Meski begitu, mereka mempunyai banyak harta dan anak-anak yang membuat mereka dipandang dalam masyarakat kala itu.
            Tapi, setelah Islam datang, ia menghapus semua bentuk kejahiliyaan yang ada dalam masyarakat, keadaannya menjadi berubah. Mereka tak lagi mendapat tempat dalam pandangan masyarakat. Islam mengajarkan bahwa derajat seseorang menjadi bernilai karena ketakwaannya bukan karena kekayaannya atau kejahatannya. Islam memberikan tempat terbaik bagi mereka yang mempunyai ilmu agama dan ketakwaan. Mereka menjadi terpandang dan mereka dijadikan pemimpin oleh masyarakat. Kita lihat, sebelum datangnya Islam, Umar bin Khottob adalah seorang yang ditakuti karena sikap kerasnya dan perbuatannya yang ditakuti, namun setelah dia memeluk Islam dan keislamannya baik, dia menjadi seorang yang terpandang dan disegani oleh masyarakat. Dia menjadi seorang sahabat Rasul yang sangat peduli dengan agama dan menjaga hukum-hukumnya. Hingga akhirnya, diapun diangkat menjadi Khalifah (Pemimpin) kaum Muslimin kala itu. Semua itu terjadi karena Allah mengangkat derajat orang-orang yang bertakwa.

            Tetapi orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selalu bertindak demikian.


            Dengan ini, kitapun melihat bahwa nubuat yang dikatakan oleh Nabi Yesaya telah menjadi kenyataan. Semuanya terbukti dengan apa yang terjadi 14 abad lampau. Nubuat ini adalah semata-mata nubuat yang mengabarkan Kekhalifahan Islam.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar