Rabu, 26 Oktober 2016

Muhammad dalam Alkitab (Yesaya 33: 17-23)

        
        “Engkau akan memandang raja dalam semaraknya, mereka akan melihat negeri yang terbentang jauh. Dalam hatimu engkau akan memikirkan kengerian yang sudah-sudah: "Sudah lenyapkah juru hitung, sudah lenyapkah juru timbang, dan sudah lenyapkah orang yang menghitung menara-menara?"Tidak lagi akan kaulihat bangsa yang biadab itu, bangsa yang logatnya samar, sehingga tidak dapat dipahami, yang bahasanya gagap, sehingga tiada yang mengerti. Pandanglah Sion, kota pertemuan raya kita! Matamu akan melihat Yerusalem, tempat kediaman yang aman, kemah yang tidak berpindah-pindah, yang patoknya tidak dicabut untuk seterusnya, dan semua talinya tidak akan putus. Di situ kita akan melihat betapa mulia TUHAN kita: seperti tempat yang penuh sungai dan aliran yang lebar; perahu dayung tidak melaluinya, dan kapal besar tidak menyeberanginya. Sebab TUHAN ialah Hakim kita, TUHAN ialah yang memberi hukum bagi kita; TUHAN ialah Raja kita, Dia akan menyelamatkan kita. Tali-talimu sudah kendor, tidak dapat mengikat teguh tiang layar di tempatnya, tidak dapat membentangkan layar. Pada waktu itu orang akan membagi-bagi rampasan banyak-banyak, dan orang-orang lumpuh akan menjarah jarahan.”  (Yesaya 33: 17-23)


            Nubuat yang akan kita baca kali ini adalah nubuat tentang kedatanganseorang Raja yang memasuki Yerusalem. Raja tersebut akan datang dalamkemuliaan dan semaraknya. Yakni dia datang bersama panglima-panglimanya. Dia akan dilihat oleh penduduk Yerusalem yang waktu itu sedang dalam keadaan takut. Pasalnya mereka telah melihat dan merasakan kengerian gempuran dan serangan dari pasukan Sang Raja. Bangsa tersebut merupakan bangsa yang dikenal jahiliyah dan mempunyai peradaban tak setinggi mereka.

            “Dalam hatimu engkau akan memikirkan kengerian yang sudah-sudah: "Sudah lenyapkah juru hitung, sudah lenyapkah juru timbang, dan sudah lenyapkah orang yang menghitung menara-menara?"

            Maksud ayat di atas adalah penduduk Yerusalem saat itu merasakan kengerian dan ketakutan yang mereka sudah dengar dari daerah lainnya yang telah ditaklukkan oleh Raja dan pasukan-pasukannya. Seakan-akan mereka sudah yakin bahwa kelak Raja itu akan masuk ke kota mereka. Sehingga mereka berkata dimanakah orang-orang yang menghitung pasukan, dimanakah utusan-utusan Sang Raja yang biasanya mendatangi mereka untuk membuat perjanjian. Dan apakah pasukan tersebut sudah menghitung menara-menara dan benteng-benteng di Yerusalem. Apakah mereka sudah berhasil masuk ke kota dan mengalahkan tentara-tentara kita.
            Tatkala mereka melihat Sang Raja masuk ke dalam Yerusalem, dia terlihat begitu menawan. Seakan-akan dia adalah orang yang paling berjasa dan paling mulia karena dialah pemimpin pasukan-pasukan itu. Dia datang dalam semaraknya. Yakni datang bersama panglima-panglimanya dan tentaranya.
            Kemudian Nabi Yesaya mengatakan ciri dari bangsa dan Raja tersebut,

            Tidak lagi akan kaulihat bangsa yang biadab itu, bangsa yang logatnya samar, sehingga tidak dapat dipahami, yang bahasanya gagap, sehingga tiada yang mengerti

          Raja dan Bangsa yang akan masuk ke Yerusalem itu adalah bangsa yang dikenal sebagai bangsa biadab. Dalam artian mereka tidak mempunyai peradaban tinggi sekelas bangsa Romawi atau Persia. Mereka adalah bangsa yang dikenal sebagai bangsa jahiliyah. Ciri mereka yang kedua adalah logat atau aksen mereka yang samar. Bahasa mereka adalah bahasa yang tidak begitu dikenal waktu itu seperti halnya bahasa Yunani, Ibrani, ataupun Latin. Dan ciri mereka yang ketiga adalah mereka merupakan bangsa yang buta huruf. Seperti yang saya sebutkan diawal nubuat adalah kalimat yang mempunyai kiasan. Bangsa ini disebut dengan bangsa yang berbicara gagap/terbata-bata atau stammering tongue. Stammering tongue berarti lidah yang gagap. Hal ini adalah kiasan dari buta huruf. Orang-orang yang buta huruf apabila mereka disuruh membaca maka mereka akan membacanya dengan tergagap-gagap,

            Tidak lagi akan kaulihat bangsa yang biadab itu, bangsa yang logatnya samar, sehingga tidak dapat dipahami, yang bahasanya gagap, sehingga tiada yang mengerti

            Fokus kita tidak terarah kepada itu saja namun ada satu hal yang lebih penting dari itu. Perhatikan dengan seksama nubuat di atas. Dikatakan bahwa kelak orang-orang yang mendiami Yerusalem (orang-orang Kristen dan Yahudi) waktu itu takkan melihatnya lagi sebagai bangsa yang rendahan. Mereka takkan lagi melihat bangsa itu sebagai bangsa yang biadab. Mereka takkan lagi melihatnya sebagai bangsa bodoh yang tak bisa membaca. Sebaliknya, mereka akan melihat bangsa itu sebagai bangsa yang membuat Yerusalem hidup dalam keimanan kepada Allah. Mereka akan menjadikan Yerusalem sebagai tempat peribadatan kepada Allah dan sebagai tempat suci bernaungnya agama Ibrahim yang hanif.

            “Pandanglah Sion, kota pertemuan raya kita! Matamu akan melihat Yerusalem, tempat kediaman yang aman, kemah yang tidak berpindah-pindah, yang patoknya tidak dicabut untuk seterusnya, dan semua talinya tidak akan putus.”  

            Kemudian dikatakan bahwa kelak mereka takkan menghancurkan Yerusalem ketika mereka datang ke tempat itu. Sejarah telah mencatat bagaimana keganasan bangsa-bangsa asing yang datang ke Yerusalem. Mereka menghancurkan apa saja yang mereka dapatkan di dalamnya. Mereka menghancurkan rumah-rumah ibadah seperti Kuil Sulaiman dan lainnya. Mereka adalah bangsa Babilonia dan Romawi yang datang ke Yerusalem untuk menghancurkan kota itu.
            Namun tidak dengan bangsa yang dikatakan dalam nubuat ini, ketika mereka datang ke sana, mereka takkan menghancurkan tempat-tempat ibadah. Mereka takkan menjarah rumah-rumah penduduk. Dan mereka takkan menghancurkan kota itu dengan membakarnya seperti yang dilakukan oleh Babilonia dan Romawi,

            “Pandanglah Sion, kota pertemuan raya kita! Matamu akan melihat Yerusalem, tempat kediaman yang aman, kemah yang tidak berpindah-pindah, yang patoknya tidak dicabut untuk seterusnya, dan semua talinya tidak akan putus.”  

            Padahal mereka dulu dikenal sebagai bangsa biadab yang buta huruf. Namun tidak untuk kali ini dan untuk selamanya. Mereka akan datang dengan kemuliaan dan akhlak yang agung. 

            “Di situ kita akan melihat betapa mulia TUHAN kita: seperti tempat yang penuh sungai dan aliran yang lebar; perahu dayung tidak melaluinya, dan kapal besar tidak menyeberanginya”.

            Nubuat ini mengatakan bahwa Yerusalem semenjak kedatangannya akan menjadi kota yang penuh kedamaian seperti aliran sungai. Kota yang penuh dengan iman. Kota itu akan mengeluarkan berkahnya dan menjadi tempat yang aman bagi siapa saja. Sedangkan  maksud dari perahu dan kapal besar yang dimaksud adalah bangsa asing. Nubuat ini mengatakan bahwa bangsa-bangsa asing yang ingin menguasainya takkan berhasil selama raja itu berkuasa.

            “Sebab TUHAN ialah Hakim kita, TUHAN ialah yang memberi hukum bagi kita; TUHAN ialah Raja kita, Dia akan menyelamatkan kita”.

            Nubuat selanjutnya mengatakan bahwa Raja dan bangsa tersebut akan membuat hukum dan undang-undang yang berdasarkan wahyu Allah. Mereka akan menjadikan Allah sebagai pengadil dalam setiap perkara mereka. Karena dialah Tuhan mereka. Mereka menyembah-Nya dan menjadikan-Nya Pengadil dalam urusan mereka.

            “Tali-talimu sudah kendor, tidak dapat mengikat teguh tiang layar di tempatnya, tidak dapat membentangkan layar".

         Yang dimaksud ayat ini adalah bangsa Yahudi. Mereka waktu itu tidak mempunyai kekuatan dan pasukan untuk menguasai Yerusalem. Jumlah mereka sedikit.

"Pada waktu itu orang akan membagi-bagi rampasan banyak-banyak, dan orang-orang lumpuh akan menjarah jarahan.” 

            Kemudian nubuat selanjutnya mengatakan bahwa akan ada banyak rampasan perang yang dibagi-bagikan. Raja dan bangsa yang telah menguasai Yerusalem itu telah menguasai banyak daerah dan negri. Mereka telah memerangi pasukan-pasukan, negri-negri, dan daerah yang terbentang luas. Akibatnya merekapun mendapat rampasan yang besar bahkan saking besarnya orang-orang yang lemah dan tak ikut dalam peperanganpun ikut mendapat harta rampasan itu. Hal itu seperti yang dikatakan di awal,

            “Engkau akan memandang raja dalam semaraknya, mereka akan melihat negeri yang terbentang jauh.”

           
Nubuat tentang Umar bin Khottob

         
          Nubuat yang baru kita baca adalah nubuat besar yang akan membuktikan kebenaran Islam. Sebuah nubuat agung yang menceritakan peristiwa paling bersejarah dalam umat manusia. Nubuat ini terbukti dengan apa yang terjadi empat belas abad yang lalu. Ya, empat belas abad yang lalu tatkala umat Islam telah menaklukkan banyak negri di bawah komando Sang Khalifah, Umar bin Khottob. Kala itu, umat Islam adalah umat yang baru muncul di panggung sejarah dunia. Setelah meninggalnya Rasulullah, kepimpinan umat dipegang oleh penerus-penerusnya. Mereka tetap mengikut pesan Rasulullah untuk terus menyampaikan risalah ini kepada umat manusia dan mengajak mereka sampai mereka beriman kepada Allah dan Rasulnya.
            Salah satu Khalifah yang membuat banyak penaklukkan adalah Umar bin Khottob. Dia bukan hanya pemimpin yang dikenal karena ketakwaannya tapi juga dikenal karena ketegasannya. Ketegasannya sebanding dengan sikapnya yang sangat sederhana dan tidak menyukai kemewahan. Beliau adalah Amirul Mukminin. Pemimpinnya orang-orang yang beriman. Tinta emas para Sejarawan mencatatnya sebagai seorang pemimpin yang menjadi teladan sepanjang masa. Diantara prestasinya adalah penaklukkan Syam (termasuk Yerusalem dan Syria) dan penaklukkan Iraq dan Iran. Dua kekaisaran yang dikenal sebagai Super Powernya dunia kala itu dikalahkan dalam waktu yang akan membuat banyak orang terkagum. Dia telah berjasa menyebarkan Islam ke seantero jazirah dan membuat Islam agama yang diatas. 

Peristiwa Penaklukkan Syam dan Masuknya Umar ke Yerusalem

            Ketika Umar bin Khottob dipilih untuk menjadi Khalifah, maka beliaupun menjalankan tugas-tugas dan ekspedisi yang sebelumnya dilakukan oleh Khalifah sebelumnya. Beliaupun memerintahkan para pasukannya untuk segera bersiap-siap menyerang Persia. Dan setelah pinggiran Persia direbut, perhatiannya beralih kepada Syam. Syam adalah sebuah wilayah yang terdiri dari Palestina, Syria, dan Jordania. Daerah itu dikuasai oleh Romawi Byzantium. Mereka adalah kekaisaran yang menjadikan agama Kristen sebagai agama resmi. Pusat kekuasaan mereka berada di Byzantium. Oleh karena Yerusalem sebagai kota suci mereka, maka merekapun ikut berupaya untuk menguasainya dari bangsa lain. 
            Sesuai pesan Rasulullah, maka Umarpun mengirim pasukan untuk mengajak mereka masuk Islam.Jika mereka menolak maka mereka harus membayar Jizyah dan jika mereka menolak jizyah, maka opsi terakhir adalah perang.    
            Sejarah mencatat bahwa umat Islam berhasil mengusir Romawi dari jazirah dan memulangkan mereka kembali ke Byzantium. Mereka tak lagi dapat menguasai wilayah Syam dan sekitarnya. Kekalahan demi kekalahan yang mereka terima dari pasukan Islam membuat hati mereka gentar. Semenjak itu Pasukan Romawi tak lagi mengusik untuk masuk ke Syam.
            Yang akan menjadi perhatian kita adalah peristiwa tatkala Umar masuk ke Yerusalem. Para Sejarawan telah mencatat peristiwa itu dalam goresan tinta mereka. Sejarawan Islam seperti Tabari, Ibnu katsir, Ibnu Khaldun dan lainnya ikut menulis peristiwa ini. Peristiwa masukanya Umar ke Yerusalem adalah peristiwa bersejarah karena dia telah membuat perjanjian dengan Uskup Agung Yerusalem yang menjadikan toleransi umat beragama semakin hidup disana. Umar menjamin orang-orang Kristen untuk beribadah, menjamin rumah-rumah ibadah mereka tidak dirusak, dan menjamin hak hidup dan harta benda mereka.
Nubuat yang pertama mengatakan bahwa kelak orang-orang yang tinggal di Yerusalem saat itu akan melihat seorang Raja yang datang dalam semaraknya. Yakni dia datang dengan iringan para prajuritnya dan panglimanya. Dia datang dengan sebuah kehormatan yang membuat semua orang melihatnya terkagum,

          “Engkau akan memandang raja dalam semaraknya, mereka akan melihat negeri yang terbentang jauh.”

            Salah satu Raja yang pernah masuk ke kota Yerusalem adalah Umar bin Khottob. Peristiwa ini terjadi di tahun 637 masehi. Umar datang ke Yerusalem bersama panglima-panglimanya yang telah sukses membuka kota itu setelah pengepungan 6 bulan. Diantaranya adalah Abu Ubaidah bin Al jarrah, Khalid bin walid, Amr bin Ash, dan Yazid bin Abi Sufyan. Mereka datang untuk meninjau kota tersebut dan menjadikannya wilayah kekuasaan Islam. Kota ini menjadi salah satu tujuan pembebasan pasukan Islam, karena, di sanalah tempat Nabi Muhammad mikraj dan disanalah terdapat Masjidil Aqsho. Perlu diketahui, Yerusalem adalah kota yang mempunyai benteng yang kuat waktu itu. Bahkan disebutkan oleh Sejarawan butuh waktu 6 bulan untuk mengepung kota itu hingga akhirnya uskup pemimpin kota itu menyerah dan memutuskan untuk memberi jizyah. Sejarawan Waqidi berkata tentang masuknya Umar ke sana,

            “Umar memasuki Baitul Makdis (Yerusalem) dengan mengenakan pakaian wol yang sudah ditambal dengan empat belas tambalan di antaranya kulit hewan. Sahabat-sahabatnya berkata kepadanya: “Sebaiknya anda mengganti unta itu dengan mengenakan kuda dan memakai pakaian putih. Saran itu diterimanya, dan diapun mengenakan sehelai selendang kecil dari kain linen di pundaknya yang disodorkan Abu Ubaidah, dan seeokor kuda beban disiapkan untuk dinaikinya. Begitu dilihatnya, kuda itu berjalan meligas dan berlagak, dan iapun turun dan berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Hapuskanlah kesalahanku semoga Allah menghapuskan kesalahan kalian di hari kiamat. Pemimpin kalian hampir binasa karena kemasukan rasa sombong dan ujub dalam hatinya”. Kemudian diapun melepaskan apa-apa yang sudah dipakainya itu dan memakai kembali pakaiannya yang bertambal-tambal". (Waqidi)

            Ketika tiba di Yerusalem, beliau disambut oleh Uskup Sophronius yang menjadi pemimpin umat Kristen kala itu. Setelah berbincang-bincang beliau lantas membuat perjanjian dengannya. Perjanjian itu menjadi fondasi kerukunan antar umat beragama di Yerusalem. Dan sebagai bukti bahwa Islam tidak pernah melarang orang lain untuk beribadah.   
             Ketika itu setiap orang memandang kepadanya. Dia adalah orang yang paling berjasa dalam membuka kota itu. Dia terlihat menawan dengan kesederhanaan yang dimiliki olehnya. Dia datang bersama panglima-panglimanya sehingga terlihat semarak.
            Kita lihat kembali nubuat tersebut,

“Engkau akan memandang raja dalam semaraknya, mereka akan melihat negeri yang terbentang jauh.”

            Kemudian dikatakan bahwa kelak pasukan-pasukan Raja tersebut akan melihat negri-negri yang terbentang jauh. Mereka akan menaklukkan negeri-negri yang sebelumnya tak pernah mereka pikirkan. Karena jarak negri tersebut sangatlah jauh dari negri asal mereka.
            Nubuat ini terbukti dengan penaklukkan yang dilakukan di masa Umar. Sejarah mencatat bahwa Umar bin Khottob telah menaklukkan negri-negri yang jaraknya jauh dari negri mereka di Madinah. Mulai dari Antiokia di baratlaut, Mesir di barat, Armenia di utara, hingga Merv di timur. Negri-negri tersebut ditaklukan dan menjadi kekuasaan Islam.

Dalam hatimu engkau akan memikirkan kengerian yang sudah-sudah: "Sudah lenyapkah juru hitung, sudah lenyapkah juru timbang, dan sudah lenyapkah orang yang menghitung menara-menara?"

            Nubuat ini mengatakan bahwa keadaan penduduk kota Yerusalem saat itu sedang dalam ketakutan. Mereka telah mengetahui bahwasanya Raja dan Pasukannya tersebut telah mengalahkan negri-negri di sekitar Yerusalem. Karenanya merekapun takut dan berkata, apakah orang-orang yang menjadi juru perantara dan juru damai sudah melaksanakan tugasnya?, dan apakah mereka yang menghitung menara-menara untuk didobrak telah selesai. Seperti yang diketahui, Yerusalem adalah kota yang mempunyai beberapa menara dan benteng yang kuat.
             Semua sejarawan sepakat bahwa pasukan Umar lebih dulu membebaskan dan menyerang negri-negri sekitar Yerusalem seperti Ramlah, Gaza, Fihl, Ajnadain, Acre, dan Tyre. Dan yang terakhir didatangi adalah Yerusalem.
            Sudah tentu perasaan warga Yerusalem saat itu ketakutan. Mereka telah mendengar kabar-kabar tentang pasukan Islam yang telah menyerang kota-kota tersebut. Mereka ngeri dan takut jika seandainya merekapun akan diserang.
             Penyebab lain yang membuat warga Yerusalem takut waktu itu adalah karena mereka telah terkepung selama 6 bulan. Pasukan Islam terus berupaya untuk mendobrak gerbang dan melakukan berbagai upaya hingga akhirnya pemimpin mereka menyerah dan membuka pintu bagi pasukan Islam.
              Penduduk Yerusalem saat itu sedang mengira-ngira akankah mereka dibunuh, ditawan, atau mungkin dirampas. Mereka takut akan bernasib malang. Mereka takut jika seandainya pasukan Islam itu masuk dan membunuhi mereka dengan membabi buta. Namun hal itu takkan terjadi. Takkan ada satu orangpun yang akan dibunuh.

Tidak lagi akan kaulihat bangsa yang biadab itu, bangsa yang logatnya samar, sehingga tidak dapat dipahami, yang bahasanya gagap, sehingga tiada yang mengerti.

            Dan di nubuat inilah kita akan mendapatkan bukti. Di nubuat inilah kita akan yakin bahwa sesungguhnya nubuat ini tiada lain adalah nubuat untuk Umar bin Khottob dan pasukannya.
            Nubuat ini mengatakan bahwa kelak orang-orang yang melihat Raja dan pasukannya itu takkan lagi melihat mereka sebagai bangsa biadab yang tak mengenal nilai kemanusiaan. Bangsa ini dulunya mereka kenal hanya sebagai bangsa yang jahiliyah yang tak bisa membaca baca tulis. Bangsa, yang dulu menjadi ejek-ejekan mereka karena peradabannya yang tak setinggi mereka. Tapi tidak untuk kali ini.
            Mereka datang dengan kemuliaan dan penghormatan yang tinggi. Mereka datang sebagai bangsa yang dapat membaca dan mempunyai kebiasaan membaca. Mereka datang dengan sebuah misi yang agung. Mereka datang bukan untuk merampas harta mereka atau menghancurkan kota mereka.
            Kita lihat, bagaimana Umar dan Pasukannya itu membebaskan Syam dan sekitarnya bukan untuk merampas harta mereka atau membunuh mereka dengan membabi buta. Mereka datang kepada mereka semata-mata karena misi dan perintah Allah agar mereka beriman kepada Allah dan Rasulnya.
            Mereka datang bukan sebagai bangsa barbar yang biadab yang apabila menyerang suatu negri menghancurkan apa saja yang dilihatnya. Mereka datang dengan akhlak dan kemuliaan manusia yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Mereka datang dengan perintah untuk tidak membabi buta dalam berperang, tidak membunuh anak-anak, perempuan, dan orang-orang lemah. Mereka datang sebagai bangsa yang diridhoi oleh Allah. Apakah ada darah yang tertumpah, manusia yang terbunuh, atau gereja yang dirubuhkan tatkala Umar datang ke sana?. Tak ada. Tak ada satupun mahluk ataupun benda yang mereka bunuh tatkala mereka datang ke sana. 
            Bandingkan dengan bangsa-bangsa yang pernah datang ke sana seperti Babilonia dan Romawi. Mereka membunuh banyak orang dan menghancurkan apa saja yang mereka lihat. Mereka menghancurkan rumah-rumah ibadah. Bandingkan pula dengan Pasukan Salib yang datang ke sana dengan niat tulus namun perbuatan yang melampaui batas. Sejarah mencatat bagaimana rusak dan biadabnya Pasukan Salib ketika mereka ke sana. Mereka membantai siapapun yang mereka lihat di Yerusalem saat itu.   

            Tidak lagi akan kaulihat bangsa yang biadab itu, bangsa yang logatnya samar, sehingga tidak dapat dipahami, yang bahasanya gagap, sehingga tiada yang mengerti.

           Bangsa Arab sebelum Islam adalah bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang buta huruf. Mereka sering diejek oleh bangsa Romawi dan Persia karena peradaban mereka yang tak setinggi dua kerajaan itu. Dalam Qur’an disebutkan bagaimana orang-orang Yahudi memanggil orang-orang Arab dengan orang-orang yang buta huruf,

            “Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang umi (buta huruf). Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.” (Ali Imron : 75)

            Dalam Qur'an juga disebutkan bahwa nabi Muhammad diutus kepada kaum yang buta huruf,

             “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (AsSunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”, (Al-Jumuah:2)

             Namun ketika mereka datang ke Yerusalem, keadaannya sudah berubah. Mereka sudah dapat membaca. Mereka datang dengan sebuah kitab suci yang menuntun mereka untuk membaca. Padahal dulunya mereka adalah bangsa yang buta huruf. Namun ketika Nabi Muhammad datang,  umat Islam tergerak untuk mempelajari Al-qur'an dan kebiasaan membacapun meluas.
            Umat Islam waktu itu adalah umat yang sudah berubah dari pola pikir dan kebiasaan jahiliyah. Mereka telah masuk Islam dan menerima ajaran-ajarannya. Mereka sudah terbiasa membaca karena kitab yang telah mereka terima. Mereka datang ke sana dengan kemuliaan dan sebagai bangsa yang bermartabat. Mereka juga tidak datang sebagai bangsa yang buta huruf. Mereka telah menerima kitab suci dari Nabi Muhammad yang menuntun mereka untuk membaca. Mereka membaca dan terus membacanya hingga membuat mereka fasih.

            “Pandanglah Sion, kota pertemuan raya kita! Matamu akan melihat Yerusalem, tempat kediaman yang aman, kemah yang tidak berpindah-pindah, yang patoknya tidak dicabut untuk seterusnya, dan semua talinya tidak akan putus”.

Arti dari kemah atau Tabernacle yang dimaksud ayat diatas adalah tempat suci yang sekarang menjadi tempat berdirinya Masjidil Aqsho dan Haikal Sulaiman. Ayat ini bernubuat bahwa tatkala Raja itu datang ke Yerusalem, tempat suci itu tidak akan dirusak. Mereka takkan merusak tempat suci itu seperti bangsa Babilonia dan Romawi yang merusak dan membakar Bait Suci Haikal Sulaiman. Mereka takkanmerubuhkannya. Justru sebaliknya, tempat suci itu akan terjaga dan tidak diapa-apakan.
            Nubuat inipun sesuai dengan apa yang terjadi waktu itu. Pasukan Islam tidak menghancurkan Bait Suci seperti yang dilakukan oleh Romawi dan Babilonia. Justru sebaliknya, sebuahmasjid didirikan di tempat itu. Hal ini sebagai tanda akan kesucian niat pasukan Islam. Mereka datang bukan untuk merusak namun untuk menjadikan kota itu kota suci.
            Semenjak Islam hadir di Yerusalem, kota itu menjadi kota yang aman. Aman dari serbuan bangsa-bangsa yang ingin memilikinya. Kota itu menjadi kota yang damai dan penuh sentosa. Jika dibandingkan dengan penguasa-penguasa sebelumnya yang pernah menguasai Yerusalem, maka Islam adalah yang terbaik. Mengapa?, karena Islam tak pernah membuat hukum yang menentang kerukunan beragama. Pemerintah Islam tak pernah menerapkan undang-undang yang melarang orang lain untuk beribadah.
            Bandingkan tatkala kota itu dimiliki oleh bangsa-bangsa lain. Mereka menerapkan aturan-aturan yang terkadang membuat kerusuhan. Sehingga akibatnya terjadi banyak kerusuhan dan kericuhan yang mengganggu kedamaian negri itu.
            Seperti yang terjadi tatkala kota itu dimiliki oleh pemerintah Zionis Yahudi. Mereka tak mampu menjaga kedamaian kota itu dan akibatnya bisa dilihat. Kita sering melihat kericuhan dan kerusuhan yang mengganggu kedamaian kota tersebut. Kita sering melihat kericuhan yang terjadi di sekitar dan di dalam Masjidil Aqsho. Padahal masjid itu adalah masjid suci umat Islam yang seharusnya dijaga.

             “Di situ kita akan melihat betapa mulia TUHAN kita: seperti tempat yang penuh sungai dan aliran yang lebar; perahu dayung tidak melaluinya, dan kapal besar tidak menyeberanginya”.

            Versi bahasa Inggrisnya,

But there the glorious LORD will be unto us a place of broad rivers and streams; wherein shall go no galley with oars, neither shall gallant ship pass thereby. {of … : Heb. broad of spaces, or, hands }

Anda mungkin melihat catatan kecil dalam bahasa Inggris di atas. Yang bergaris miring. Dikatakan bahwa dalam versi bahasa Ibraninya adalah broad of spaces yang berarti tempat yang luas. Ini adalah kiasan yang berarti bahwa apabila Raja dan Pasukan itu telah hadir di Yerusalem, kota itu akan menjadi kota yang aman dan damai bagi banyak orang. Kota itu akan ditempati oleh banyak orang dan mereka akan tinggal dalam damai. Hal ini terjadi karena Penguasa menjaga kota itu dengan keamanan.
Nubuat ini terbukti dengan apa yang dilakukan oleh Umar waktu itu. Ketika Beliau tiba disana,  beliau menjamin orang-orang kristen untuk tetap beribadah tanpa perlu khawatir dengan adanya larangan dari orang lain. Gereja dan rumah-rumah mereka dijaga. Ketika itu, umat Islam dan umat kristen hidup berdampingan dengan sikap saling menghormati di antara mereka. Tak ada gesekan ataupun benturan. Waktu itu Yerusalem menjadi kota yang didiami dalam kedamaian dan keberkahan.
Dan dikatakan pula bahwa takkan lagi ada kapal-kapal besar yang datang kepadanya. Maksudanya adalah kapal-kapal bangsa asing yang ingin menguasainya. Mereka takkan lagi menguasai Yerusalem dan mereka takkan berani lagi untuk datang ke sana.
Ketika Islam berhasil menguasai kota tersebut, situasi menjadi aman dan sentosa. Kota tersebut menjadi kota Suci yang berdiam tiga agama samawi. Di kota itu, terlihatlah keagungan Tuhan.

Sebab TUHAN ialah Hakim kita, TUHAN ialah yang memberi hukum bagi kita; TUHAN ialah Raja kita, Dia akan menyelamatkan kita.

Nubuat selanjutnya mengatakan bahwa kelak hukum yang ditegakkan di kota tersebut adalah hukum Allah. Nubuat inipun menjadi kenyataan dengan ditegakkanya hukum Islam tatkala kota tersebut sudah dikuasai olehnya. Islam adalah agama yang sempurna. Di antara kesempurnaannya adalah penegakkan hukum yang harus dilakukan oleh pemerintah.
Tatkala Yerusalem dikuasai Islam, hukum Islam ditegakkan di kota tersebut. Hukum Islam adalah hukum yang dasarnya dari Qur’an dan Sunnah. Hukum tersebut bukan buatan manusia melainkan atas perintah Allah.

“Tali-talimu sudah kendor, tidak dapat mengikat teguh tiang layar di tempatnya, tidak dapat membentangkan layar.

Nubuat ini adalah nubuat untuk bangsa Yahudi. Dikatakan bahwa waktu itu mereka tak mempunyai kekuatan ataupun pasukan untuk menguasai Yerusalem. Waktu itu mereka adalah bangsa yang lemah.
Waktu itu, bangsa Yahudi tak mempunyai kekuatan ataupun pasukan yang bisa menguasai Yerusalem. Jumlah mereka terlalu sedikit. Sebaliknya umat Islam adalah umat yang banyak dan mereka mempunyai pasukan yang besar. 

 Pada waktu itu orang akan membagi-bagi rampasan banyak-banyak, dan orang-orang lumpuh akan menjarah jarahan.” 

            Dan nubuat selanjutnya mengatakan bahwa akan ada banyak rampasan perang yang dibagikan. Nubuat inipun sesuai dengan apa yang terjadi waktu itu. Pasukan Islam telah berperang melawan dua Kerajaan besar saat itu seperti Persia dan Romawi dan mereka menang melawannya. Merekapun menaklukkan banyak negri. Dampaknya, merekapun mendapatkan banyak harta rampasan yang melimpah.
Nubuat ini adalah semata-mata untuk pasukan Islam dan bukan bangsa Israel. Karena jelas dikatakan bahwa Raja dan pasukannya itu akan membagi-bagikan harta rampasan perang. Dalam syariat mereka (yahudi), mereka dilarang untuk mengambil harta rampasan perang.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar